-->

Notification

×

Iklan

Ucapan Selamat Andre Yulius ke Gerindra Dinilai Sarat Retorika Politik Elite

6 Feb 2026 | Februari 06, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-06T05:07:42Z



Aspirasi Jabar || SIDOARJO - Ucapan selamat Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Partai Gerindra yang disampaikan politikus muda PDI Perjuangan, Dr. dr. Andre Yulius, memantik perhatian publik. Di balik bahasa apresiatif dan seruan kebersamaan yang disampaikannya, pernyataan tersebut dinilai lebih mencerminkan diplomasi politik elite ketimbang refleksi kritis atas perjalanan sebuah partai politik.


Andre Yulius menyebut usia 18 tahun sebagai tonggak penting bagi Partai Gerindra dan menilai partai tersebut telah menunjukkan eksistensi serta konsistensi dalam kancah politik nasional. Namun, penilaian tersebut dianggap terlalu normatif karena tidak disertai catatan evaluatif terhadap dinamika dan kontroversi yang mewarnai perjalanan Gerindra selama hampir dua dekade.


Pujian terhadap peran Gerindra dalam pembangunan dan pengambilan kebijakan strategis bangsa juga dinilai sebagai pernyataan aman yang lazim disampaikan dalam momentum seremonial. Publik menilai narasi semacam ini kerap berulang tanpa menyentuh substansi sejauh mana kebijakan politik benar-benar berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.


Pernyataan Andre Yulius yang menekankan pentingnya demokrasi yang sehat, sejuk, dan konstruktif turut menuai sorotan. Di tengah realitas politik nasional yang sarat dengan tarik-menarik kepentingan dan kompromi elite, seruan tersebut dinilai lebih sebagai jargon moral ketimbang sikap politik yang tegas dan terukur. 


Sebagai politisi muda dari PDI Perjuangan, sikap Andre yang memberikan apresiasi terbuka kepada partai lain juga memunculkan spekulasi mengenai arah positioning politik ke depan. Sejumlah pengamat menilai pernyataan tersebut tidak lepas dari upaya menjaga relasi antarelite politik, terutama di tengah dinamika kekuasaan yang terus bergerak pasca kontestasi nasional
Ajakan kolaborasi antarpartai yang disampaikan Andre Yulius pun dianggap sebagai wacana klise yang kerap digaungkan setiap momentum ulang tahun partai, namun minim tindak lanjut konkret. Kolaborasi disebut-sebut sebagai kunci kebijakan pro-rakyat, meski realitas di lapangan sering menunjukkan sebaliknya.


Momentum HUT ke-18 Partai Gerindra yang seharusnya menjadi ruang refleksi mendalam justru dipenuhi narasi saling mengapresiasi antar elite. Hal ini memperkuat kesan bahwa budaya politik Indonesia masih didominasi bahasa simbolik dan retorika persatuan, sementara kepentingan rakyat kerap hanya menjadi slogan.


Ucapan selamat Andre Yulius pun akhirnya dipandang bukan sekadar pesan personal, melainkan potret bagaimana komunikasi politik elite terus dipertahankan dalam bingkai keharmonisan, meski jarak antara janji politik dan realitas publik masih lebar.


Jurnalis : Redho


Editor     : Asp. SP. 
×
Berita Terbaru Update