Aspirasi Jabar || Kota Tasikmalaya - Ketua Komite SMPN 5 Kota Tasikmalaya, Dr. Yusup Supriyono, angkat bicara terkait sejumlah dinamika yang terjadi di lingkungan sekolah tersebut dalam beberapa bulan terakhir. Ia menyebut, berbagai informasi yang diterima komite berasal dari proses pengamatan serta masukan dari guru maupun orang tua siswa.
Menurut Yusup, kepengurusan komite yang ia pimpin baru berjalan sekitar delapan bulan sejak dibentuk pada Juli 2025. Selama periode tersebut, komite berupaya mengumpulkan data dan melakukan komunikasi dengan berbagai pihak guna memahami situasi yang berkembang di sekolah.
“Data yang kami peroleh berasal dari berbagai sumber, mulai dari hasil pengamatan, masukan dari para guru, hingga interaksi dengan orang tua siswa. Ekosistem sekolah ini kan paling banyak melibatkan kepala sekolah dan guru, sehingga dinamika di antara keduanya sangat memengaruhi iklim pembelajaran,” ujarnya. Minggu. (08/03/2026).
Ia menjelaskan, SMPN 5 Tasikmalaya selama ini dikenal sebagai salah satu sekolah rujukan dengan sejumlah indikator prestasi yang kuat. Banyak guru di sekolah tersebut berstatus instruktur nasional dan kerap menjadi narasumber atau pembicara di berbagai kegiatan pendidikan, bahkan hingga di luar pulau.
“Ini bukan sekolah biasa. Ekosistemnya sudah terbentuk lama, diisi oleh guru-guru berkualitas dan didukung oleh masyarakat dengan kultur pendidikan yang baik. Karena itu SMPN 5 menjadi salah satu sekolah pilihan masyarakat,” katanya.
Namun demikian, Yusup mengakui belakangan muncul sejumlah kekhawatiran dari guru maupun orang tua siswa terkait perubahan kebijakan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Menurutnya, beberapa program yang sebelumnya berjalan justru mengalami perubahan di tengah jalan.
“Ada beberapa program yang sebelumnya sudah berjalan dan menjadi ciri khas sekolah, tetapi kemudian diubah di tengah proses. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan dari orang tua siswa karena tidak sesuai dengan ekspektasi awal,” ungkapnya.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah pengelolaan kelas khusus (KUCI). Yusup menyebut, sebelumnya terdapat tim guru yang secara khusus menangani program tersebut. Namun dalam perkembangannya, peran pengelolaannya dinilai mengalami perubahan.
“Reguler dan kelas khusus itu memiliki peran yang berbeda. Ketika sistem pengelolaannya berubah tanpa komunikasi yang cukup, tentu menimbulkan kekhawatiran bahwa kualitas program bisa terpengaruh,” jelasnya.
Ia juga menyinggung menurunnya minat masyarakat terhadap program KUCI dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, hal tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bersama.
Dalam beberapa kesempatan, lanjut Yusup, komite juga menerima keluhan dari sebagian guru dan orang tua terkait pola komunikasi di lingkungan sekolah. Bahkan sempat muncul rencana aksi dari sejumlah orang tua siswa yang ingin menyampaikan aspirasi mereka.
“Sempat ada rencana orang tua akan melakukan aksi, tetapi kami mencoba menahan dan meredamnya. Kami ingin memberikan waktu karena kepala sekolah juga masih baru menjabat. Saat itu kami berharap ada proses penyesuaian,” katanya.
Yusup menambahkan, komite juga telah mencoba memfasilitasi pertemuan antara pihak sekolah, guru senior, serta pengurus komite guna mencari titik temu terkait berbagai persoalan yang muncul.
“Kami sudah berupaya menyinkronkan apa yang menjadi harapan orang tua dengan program yang dijalankan sekolah. Kami mengumpulkan komite, pimpinan sekolah, dan guru senior agar semuanya bisa duduk bersama. Namun sampai saat ini belum menemukan titik temu yang benar-benar menyelesaikan persoalan,” jelasnya.
Ia menyebut, persoalan ini juga telah dilaporkan kepada Dinas Pendidikan serta BKD untuk menjadi perhatian bersama.
Menurut Yusup, komite memiliki tanggung jawab untuk menjaga kualitas pembelajaran di sekolah agar tetap sesuai dengan harapan masyarakat.
“Kami khawatir jika kondisi ini terus berlarut-larut, kinerja guru bisa terganggu. Ketika ide atau gagasan guru tidak dihargai, tentu akan berdampak pada semangat kerja dan kualitas pembelajaran,” katanya.
Meski demikian, Yusup berharap persoalan ini dapat segera diselesaikan secara bijak tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan.
“Kami tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Di satu sisi mungkin ada kebijakan kepala sekolah yang menurutnya benar, tetapi di sisi lain orang tua juga memiliki harapan agar program yang sudah dijanjikan tetap berjalan sesuai kesepakatan awal,” pungkasnya.
Sebelumnya beberapa Pendidik dan Tenaga Kependidikan mengeluhkan
Dugaan sikap arogan yang ditunjukkan oleh Kepala Sekolah SMPN 5 Tasikmalaya Mereka menilai pola kepemimpinan yang diterapkan tidak mencerminkan sikap seorang pendidik yang seharusnya mampu menjadi teladan serta membuka ruang dialog bagi seluruh warga sekolah.
Sejumlah guru yang enggan disebutkan identitasnya mengaku kerap mengalami perlakuan tidak menyenangkan saat rapat internal sekolah berlangsung. Mereka menyebut, suasana rapat sering kali terasa tegang karena masukan dari guru tidak mendapat ruang yang cukup.
“Setiap ada rapat, suasananya selalu tegang. Jika ada guru yang menyampaikan pandangan berbeda, sering kali langsung dianggap melawan,” ujar. salah seorang guru.
Menurutnya, dalam beberapa kesempatan kepala sekolah disebut kerap memotong pembicaraan, menolak masukan, bahkan memberikan teguran dengan nada tinggi di depan rekan kerja lainnya. Kondisi ini membuat sebagian guru merasa enggan menyampaikan pendapat karena khawatir mendapat respons yang kurang baik.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh sejumlah tenaga kependidikan. Mereka mengaku tidak nyaman dengan gaya komunikasi pimpinan yang dinilai keras dan kurang menghargai bawahan.
“Beberapa kali kami menerima teguran dengan kata-kata yang menurut kami kurang pantas diucapkan oleh seorang pemimpin, apalagi pemimpin di lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi contoh bagi siswa,” ungkap salah satu tenaga kependidikan.
Selain persoalan komunikasi, perubahan sejumlah program yang sebelumnya menjadi ciri khas SMPN 5 Tasikmalaya juga menjadi sorotan. Beberapa program yang sebelumnya berjalan rutin disebut mengalami perubahan bahkan tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.
Di antaranya program Kelas Kuci yang dinilai tidak lagi memiliki kejelasan konsep, kegiatan Salat Duha yang sebelumnya dilaksanakan setiap pagi kini disebut hanya dilakukan pada hari Jumat, serta kegiatan Tahfidz Camp yang sebelumnya diselenggarakan secara mandiri oleh sekolah kini diserahkan kepada pihak ketiga.
Program Rumah Tahfidz yang dahulu menjadi salah satu program unggulan juga disebut tidak lagi berjalan optimal.
Tak hanya itu, program Sekolah Adiwiyata yang sebelumnya identik dengan lingkungan hijau juga disebut tidak dipertahankan. Bahkan beberapa pohon yang ada di lingkungan sekolah disebut telah ditebang sehingga membuat suasana sekolah terasa lebih gersang.
Perubahan tersebut, menurut sejumlah sumber, juga memunculkan keluhan dari sebagian orang tua siswa yang menilai karakter dan kekhasan sekolah mulai berkurang.
Sementara itu, Kepala Sekolah Dina Yusida, S.Pd., M.Pd. saat dihubungi wartawan via whatsapp awalnya ia bersikukuh menanyakan informasi yang disampaikan wartawan dari siapa, namun pada akhirnya Kepala Sekolah meminta waktu hari senin besok untuk dilakukan secara langsung.
Jurnalis : MM
Editor : Asp. SP.
