-->

Notification

×

Iklan

Perempuan Morotai di Garis Depan Pendidikan Dua Srikandi Dorong Perubahan dari Kampus hingga Ruang Belajar

20 Mar 2026 | Maret 20, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-20T13:38:58Z


Aspirasi Jabar Morotai, Maluku Utara — Di tengah keterbatasan akses dan tantangan geografis wilayah kepulauan, perempuan Morotai tampil di garis depan dalam mendorong kemajuan pendidikan. Dua sosok yang menonjol adalah Prof. Dr. Ranita Rope, S.P, M.Sc, Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, dan Nila Sari Abdullah, pendiri Morotai English Center.

Keduanya dinilai berhasil menghadirkan perubahan nyata melalui jalur pendidikan formal dan nonformal, sekaligus memperkuat peran perempuan sebagai penggerak pembangunan sumber daya manusia di daerah.

Sebagai pimpinan perguruan tinggi, Prof. Ranita Rope mendorong transformasi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara menjadi institusi yang lebih adaptif terhadap kebutuhan daerah. Fokusnya tidak hanya pada peningkatan kualitas akademik, tetapi juga pada perluasan akses pendidikan bagi masyarakat di wilayah kepulauan.

Dikenal sebagai akademisi dengan latar belakang keilmuan yang kuat dan pengalaman panjang di dunia pendidikan tinggi, Ranita Rope juga aktif mendorong penguatan riset serta peningkatan kapasitas dosen sebagai fondasi utama kemajuan kampus. Di bawah kepemimpinannya, universitas tidak hanya diarahkan sebagai pusat pembelajaran, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial di Maluku Utara.

“Perempuan Morotai harus berani mengambil peran strategis. Pendidikan adalah kunci untuk memastikan generasi muda kita mampu bersaing,” ujar Ranita.

Ia menekankan bahwa perguruan tinggi di daerah memiliki tanggung jawab lebih besar dalam menjawab persoalan nyata masyarakat, termasuk keterbatasan sumber daya manusia dan ketimpangan akses pendidikan.

Sementara itu, Nila Sari Abdullah memilih jalur pendidikan nonformal untuk menjawab kebutuhan yang tak kalah penting. Melalui Morotai English Center, ia membuka akses pembelajaran bahasa Inggris bagi generasi muda sebagai bekal menghadapi persaingan global.

Lembaga yang ia dirikan berkembang dari kelas sederhana menjadi ruang belajar yang diminati berbagai kalangan. Pendekatan pembelajaran yang interaktif dan aplikatif menjadi kunci dalam membangun kemampuan sekaligus kepercayaan diri peserta didik.

“Anak-anak Morotai punya potensi besar. Mereka hanya butuh ruang dan dorongan untuk berkembang,” kata Nila.

Ia juga menaruh perhatian khusus pada pemberdayaan perempuan muda agar lebih berani bermimpi dan mengambil peluang di tingkat yang lebih luas.

Kehadiran kedua tokoh ini memperlihatkan pergeseran peran perempuan di Morotai—dari yang sebelumnya kerap berada di belakang, kini menjadi aktor utama dalam perubahan sosial, khususnya di sektor pendidikan.

Di tengah berbagai keterbatasan yang masih dihadapi daerah kepulauan, kontribusi mereka menjadi bukti bahwa inisiatif lokal dapat menjadi solusi nyata. Perempuan Morotai tidak hanya beradaptasi dengan keadaan, tetapi juga menciptakan arah baru bagi masa depan pendidikan.

Upaya yang dilakukan Prof. Ranita Rope dan Nila Sari Abdullah diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, sekaligus mendorong perhatian lebih luas dari pemerintah dan pemangku kepentingan terhadap penguatan pendidikan di wilayah terluar Indonesia.(oje)
×
Berita Terbaru Update