-->

Notification

×

Iklan

Pakarang Adat Purwakarta Tak Sekadar Simbol, Farid Arimba Dorong Gerakan “Jaga Lembur"

2 Sep 2026 | September 02, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-01T17:04:30Z

Aspirasi Jabar || Purwakarta - Di tengah derasnya arus modernisasi, persoalan pelestarian adat dan identitas budaya kembali menjadi perhatian. *Pakarang Adat Purwakarta di bawah kepemimpinan Farid Arimba* membawa gagasan *Jaga Lembur* sebagai upaya menempatkan adat bukan sekadar simbol, melainkan nilai yang harus hadir dalam kehidupan masyarakat. Selasa. 1/9/2026.


Gagasan tersebut dirumuskan dalam semangat “Menjaga Lembur, Merawat Adat, Melindungi Alam, Meneguhkan Masa Depan.”


Bagi Pakarang Adat Purwakarta, *lembur* tidak berhenti pada pengertian wilayah tempat tinggal. Lembur merupakan ruang yang menyimpan sejarah, kebudayaan, hubungan sosial, lingkungan, serta identitas masyarakat.


Di sinilah persoalannya:* ketika pembangunan dan perubahan zaman bergerak cepat, apa yang terjadi jika masyarakat kehilangan hubungan dengan adat, lingkungan, dan akar budayanya?


Jaga Lembur hadir dengan menawarkan lima agenda utama: *Jaga Lembur, Jaga Adat, Jaga Alam, Jaga Dulur, dan Jaga Kahareup.*


Adat Jangan Berhenti di Pakaian dan Seremonial

Farid Arimba menekankan bahwa pelestarian adat tidak boleh berhenti pada penggunaan pakaian tradisional, simbol, ataupun kegiatan seremonial.


Adat harus terlihat dalam perilaku: bagaimana masyarakat menghormati sesama, menjaga lingkungan, mempertahankan gotong royong, serta menyelesaikan persoalan secara bermartabat.


Dengan demikian, ukuran keberhasilan organisasi adat bukanlah seberapa besar pengaruh atau seberapa banyak anggotanya, tetapi *seberapa nyata keberadaannya memberikan manfaat bagi masyarakat.*


Pakarang Bukan Alat Menakut-nakuti

Nama *Pakarang Adat* juga memiliki pesan yang tegas. Pakarang ditempatkan sebagai simbol kesiapsiagaan dan keberanian dalam menjaga nilai-nilai luhur masyarakat.


Namun keberanian itu tidak boleh berubah menjadi arogansi.

Pakarang bukan simbol untuk mencari lawan, bukan alat intimidasi, dan bukan sarana mempertontonkan kekuasaan. Pakarang adalah simbol tanggung jawab untuk melindungi.*


Karena itu, organisasi adat dituntut mampu menjadi pelindung masyarakat, bukan sumber ketakutan; penjaga nilai, bukan penjaga ego; serta jembatan persaudaraan, bukan pemicu perpecahan.*


Lima Pilar yang Menjadi Garis Besar Gerakan

•Jaga Lembur
diarahkan pada ketertiban, keharmonisan, dan keberlangsungan ruang hidup masyarakat.


•Jaga Adat
menjadi upaya mempertahankan bahasa, seni, tradisi, sejarah, kesopanan, dan kearifan lokal Sunda.


•Jaga Alam menempatkan tanah, air, sungai, sawah, hutan, dan lingkungan sebagai warisan yang wajib dijaga.


• Jaga Dulur menghidupkan kembali semangat gotong royong dan *silih asah, silih asih, silih asuh*.


Sedangkan *Jaga Kahareup* diarahkan kepada generasi muda agar mampu menghadapi masa depan tanpa tercerabut dari akar budaya.


Menjaga Adat di Tengah Perubahan Zaman

Jaga Lembur Pakarang Adat tidak menempatkan modernitas sebagai musuh. Perubahan zaman justru harus dihadapi dengan pengetahuan dan keberanian.


Namun, modernisasi tidak boleh menjadi alasan untuk menghapus identitas.


Terbuka terhadap perubahan, tetapi tidak kehilangan akar. Berani menghadapi zaman, tetapi tidak meninggalkan nilai. Kuat dalam prinsip, tetapi tetap santun dalam tindakan.


Pesan tersebut menjadi penting karena kebudayaan yang hanya disimpan sebagai simbol pada akhirnya berisiko kehilangan makna.


Adat justru akan tetap hidup ketika nilai-nilainya dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.


Di bawah kepemimpinanFarid Arimba, semangat Jaga Lembur Pakarang Adat Purwakarta diarahkan pada satu pertanyaan mendasar:


Ketika generasi hari ini mewarisi lembur, adat, dan alam dari para leluhur, dalam kondisi seperti apa semuanya akan diwariskan kepada generasi berikutnya?


Jawabannya bukan hanya berada pada pemerintah atau tokoh adat, tetapi menjadi tanggung jawab bersama masyarakat.


Jaga Lembur. Jaga Adat. Jaga Alam. Jaga Dulur. Jaga Kahareup.


Adat teu kuna ku zaman, salira teu hilap ku jaman, salawasna Sunda.


Jurnalis : d'luk


Editor     : Asp. SP. 
×
Berita Terbaru Update