Header Ads

Barikade Gus Dur Bogor Raya Gelar Dialog Kebangsaan



Aspirasijabar.net-Kemang,Bogor.  Sebagai penyangga Ibukota Negara, wilayah Bogor Raya (Kota & Kabupaten) sekarang ini, tidak terasa telah menjadi daerah dengan perkembangan populasi dan kepadatan penduduk cukup tinggi. Masyarakat di wilayah ini pun mulai tumbuh menjadi masyarakat multikultur dengan beragam corak suku bangsa, sosial politik, faham pemikiran dan keyakinan.

Melihat dinamika tersebut, Barikade Gus Dur Bogor Raya, sebuah wadah perkumpulan masyarakat non pemerintah (NGO) menggelar kegiatan Dialog Kebangsaan yang diikuti berbagai tokoh lintas agama dan keyakinan. Kegiatan yang digelar untuk pertama kali nya tersebut, berlangsung di Rumah Singgah Kyai Ahmad Suhadi selaku Ketua Barikade Gusdur Bogor Raya, pada Selasa, (15/7/2020) malam.

Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Bogor, Kyai Abdullah Shomdani di daulat menjadi pembicara utama dalam giat tersebut. Lalu ada pula JS. Eeng Havendi tokoh Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) Kabupaten Bogor dan Maulana Basuki Ahmad tokoh Ahmadiyah Kabupaten Bogor. Ketua Barikade Gus Dur Bogor Raya Ahmad Suhadi mengatakan, Dialog Kebangsaan digelar sebagai bentuk sumbangsih pemikiran dari para pemuka agama, untuk meminimalisir terjadinya tindakan intoleran atas yang mengatas namakan agama. "Karena hal ini masih kerap terjadi dan membuat Bogor menjadi daerah peringkat kesepuluh intolarasi secara nasional," ungkap Ahmad Suhadi, Rabu (16/7/2020).

Suhadi sapaanya menambahkan, adanya sikap dan gerakan intoleran, sesungguhnya hanya membawa masyarakat pada alur pemikiran dan gerakan yang kontra produkrif. Apalagi jika dikaitkan dengan faham moderat keagamaan yang dimiliki sebagian besar masyarakat Kabupaten Bogor. "Karena sebagian besar masyarakat di Bogor Raya, memiliki cara berfikir yang moderat dalam soal keagamaan. Setidaknya hal ini bisa dilihat dari hampir 80 persen amaliyah NU dilakukan masyarakat yang ada di Bogor Raya ini." Ujar suhadi.

Kyai Abdullah Shomdani dalam pemaparannya dengan tema "NU Sebagai Ormas Pengawal NKRI” memaparkan, adanya tindakan pemaksaan satu kehendak, keyakinan dan faham keagamaan, adalah tindakan intoleran dan merupakan sebuah penyimpangan. Ia menegaskan, NU sejak awal didirikan oleh  KH Hasyim Asyari, KH. Wahab Hasbullah dan kyai-kyai Muasis NU lainnya, telah berjuang dan membuktikan diri sebagai sebuah organisasi yang menentang adanya hegemoni atas nama aliran pemikiran, mazhab atau atas nama agama apapun.  "Karena pemaksaan dalam soal keagamaan atau keyakinan merupakan penyimpangan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Karena setiap keyakinan dan agama apapun yang dianut setiap orang harus dihargai sebagai pilihan pada setiap individu umat manusia." Tegas Kyai Abdullah Shomdani.




Sedangkan Maulana Basuki Ahmad dari Ahmadiyah membawakan tema berjudul "Sesama Organisasi Saling Bersinergi Selama Pakem Ideologi Kebangsaan Sama”. Ia menjelaskan interaksi yang dibangun antara penganut kepercayaan ataupun keagamaan bukan untuk saling mempengaruhi apalagi memaksa. "interaksi dengan umat lain yang berbeda keyakinan atau agama adalah untuk saling mengenal satu sama lain. Sehingga dengan perkenalan tersebut bisa saling menghargai dan saling menguatkan dalam bingkai kebangsaan dan kenegaraan." Tuturnya.

Sedangkan JS. Eeng Havendi dari Majelis Ahama Konghucu Indonesia (MAKIN) mengatakan, saat ini sikap toleransi dirasakan menurun. Padahal dahulu, sambungnya, nilai toleransi sangat tinggi dan sangat dirasakan keindahan dan kebersamaanya. Sedikit bernostalgia, Eeng sapaan akrabnya menceritakan, bagaimana saat hari raya Lebaran kaum Muslim maupun hari raya Imlek kaum Tionghoa, setiap orang dengan keyakinan berbeda bisa saling membantu dan saling berkunjung satu sama lain dengan dipenuhi rasa kekeluargaan, kebahagiaan dan keharmonisan. "Jadi toleransi itu bukan untuk saling mempengaruhi umat lain   untuk berpindah dari agama yg dianutnya ke keyakinan agama lain.
Biarlah agama menjadi pilihan pribadi (privasi) seseorang kepada Tuhan." Pungkas Eeng.




~ Barikade Gus Dur Bogor Raya, sebuah wadah perkumpulan masyarakat non pemerintah (NGO) menggelar kegiatan Dialog Kebangsaan yang diikuti berbagai tokoh lintas agama dan keyakinan. Kegiatan diskusi perdana tersebut, berlangsung di Rumah Singgah Kyai Ahmad Suhadi, Ketua Barikade Gusdur Bogor Raya, pada Selasa, (15/7/2020) malam.

( Boim / Mj. Fahri Ketua FWHBU )

No comments

Note: Only a member of this blog may post a comment.