NGAWANGKONG ANGGOTA DPD RI DENGAN FAPET UNPAD DAN PERWAKILAN PETERNAK SAPI Di KECAMATAN TANJUNGSARI SUMEDANG -->

NGAWANGKONG ANGGOTA DPD RI DENGAN FAPET UNPAD DAN PERWAKILAN PETERNAK SAPI Di KECAMATAN TANJUNGSARI SUMEDANG

21 Jul 2022, Juli 21, 2022
Pasang iklan

Aspirasijabar | Sumedang - Penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Indonesia, khususnya di Jawa Barat yang menyerang ruminansia semakin hari semakin rumit untuk dikendalikan, di samping itu kerugian peternak semakin meningkat, dari sisi produksi susu sapi perah terjadi penurunan produksi sampai 80 persen atau eguivalen dengan 1 ton susu per hari.

Kejadian tersebut telah mengetuk hati salah seorang anggota DPD Pusat dari Jawa Barat, KH Amang Syafrudin, untuk menyelami kegundahan peternak dan menggali berbagai informasi terkait PMK,"Kali ini rombongan dari DPD Jawa Barat mengunjungi Kecamatan Tanjungsari Sumedang untuk menggali data dari KSU Tandangsari 

Kecamatan Tanjungsari yang merupakan salah satu sentra sapi perah di Kabupaten Sumedang. 

Silaturahim dilakukan di Rumah Edukasi Biomethagreen Tanjungsari pada hari Rabu, 20 Juli 2022 mulai Pukul 09.00 sd 12.00. Pada kesempatan tersebut, hadir rombongan DPD Pusat Perwakilan Jawa Barat yaitu KH Amang Syafrudin beserta tim sebanyak 6 orang, Drg. Rahmat Juliadi Anggota DPRD Kabupaten Sumedang, Dr. Ir. Heni Indrijani, SPt., MSi., IPU, Dr.Ir.H.Denie Heriyadi,CH. dari Fakultas Peternakan Unpad 2 orang, dokter hewan Nsereko Godfrey (K. Koko) dari Koperasi Serba Usaha Tandangsari Tanjungsari, dan beberapa perwakilan peternak dan kedinasan, serta M. Fatah sebagai tuan rumah.

Ngawangkong mendiskusikan seputar kejadian PMK yang terjadi di Jawa Barat, khususnya dampak terhadap kondisi sosial ekonomi yang dialami peternak ruminansia, baik peternak sapi perah, sapi potong, domba, dan kambing. 
Susana diskusi penangulangan wabah PMK (foto heni) 

Pada kesempatan diskusi tersebut Narasumber dari Fakultas Peternakan Unpad, yaitu Dr. Ir. Heni Indrijani, SPt., MSi., IPU, mewakili Dekan Fakultas Peternakan UNPAD, menyatakan bahwa kejadian PMK tidak saja merugikan peternak secara langsung, berupa kehilangan aset dan kehilangan sumber penghasilan dari penjualan susu yang sudah dilakukan peternak selama belasan tahun, tapi berdampak pula terhadap potensi penurunan genetik bahkan kehilangan sumber daya genetik unggul.

Hal ini didukung pula oleh Kang Koko, dokter hewan asal Uganda yang bertugas di KSU Tandangsari Tanjungsari, yang menyatakan bahwa bahwa sapi perah lebih rentan terhadap serangan PMK dibandingkan sapi potong, domba, dan kambing, karena itu perhatian utama lebih ditujukan untuk sapi perah. 

Penanganan efektif PMK hanyalah dengan pemusnahan (stamping out), namun demikian, langkah tersebut memerlukan dana yang luar biasa besar. Selanjutnya dijelaskan oleh salah seorang staf dari Fakultas Peternakan Unpad yang hadir, bahwa salah satu jalan keluar selain stamping out untuk mengatasi PMK, yaitu dilakukan vaksinasi berulang seperti mengatasi Covid 19. 

Memang vaksinasi tidak akan menghilangkan virus PMK, namun vaksinasi cukup membantu untuk mengatasi sementara penyebaran PMK, minimum memberikan rasa yang lebih menenangkan untuk peternak. Kebutuhan vaksin diperkirakan mencapai lebih dari 1.800.000 dosis 

(Vaksin ke satu, ke dua, dan booster). Biaya vaksinasi memang cukup besar, namun masih jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan stamping out atau kerugian akibat kehilangan potensi genetik (genetic lost) yang terjadi. 

Ngawangkong singkat yang ditemani oleh secangkir teh hangat dan kudapan lokal telah berjalan dengan santai dan penuh keakraban,"Pertemuan diakhiri tepat saat berkumandang adzan dzuhur. 

Semoga ngawangkong hari ini akan membawa manfaat untuk kemaslahatan bagi peternak ruminansia di Jawa Barat. Aamiin. 

Reporter : Denie Heriyadi

TerPopuler