-->

Notification

×

Iklan

Kerbau Marongge sebagai Sumber Daya Genetik Ternak Kabupaten Sumedang yang Potensial Oleh Dr. Ir. Dudi, S.Pt., M.Si., IPM Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran

7 Feb 2024 | Februari 07, 2024 WIB | 0 Views Last Updated 2024-02-07T12:33:41Z

Gambar Kerbau Marongge (Sumber: Krisna Euy, You Tube 19072019)

Aspirasi Jabar||Kerbau berperan penting dalam pembangunan pertanian di Indonesia, sehingga sawah dapat tergarap dengan baik tanpa harus menggunakan tenaga mesin (hand tracktor) yang memerlukan bahan bakar fosil yang persediaannya semakin terbatas. Penggunaan kerbau sebagai tenaga pengolah lahan pertanian merupakan suatu alternatif pembangunan pertanian ramah lingkungan dan menghemat anggaran pengeluaran bahan bakar minyak dan gas. Begitu pula pada aspek lainnya, kerbau dapat berfungsi sebagai penghasil daging bagi upaya pemenuhan kebutuhan daging nasional.  Keberadaan kerbau sedemikian rupa telah menyatu dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat. Perannya dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai ternak kerja untuk membajak, penghasil daging, status sosial dan tabungan. Peran kerbau sebagai penghasil daging memiliki posisi yang penting, mengingat daging kerbau dapat menjadi komplemen bahkan substitusi daging sapi.  Kerbau termasuk dalam sub famili Bovinae, genus Bubalus. Dari beberapa spesies kerbau, hanya spesies Bubalus arnee yang dapat menjadi jinak, sedangkan kerbau liar yang masih dijumpai adalah anoa, kerbau Mindoro, Bubalus cafeer dan kerbau merah (Hardjosubroto 1994). Domestikasi kerbau diduga sejak 7 000 tahun yang lalu dan perannya sangat menunjang kehidupan manusia (Mahadevan 1992). Kandeepan et al. (2009) menyatakan penyebaran kerbau di dunia cukup merata dikarenakan memiliki daya adaptasi yang baik pada berbagai kondisi agroklimat yang ada. Kerbau mempunyai keistimewaan tersendiri dibandingkan sapi, karena ternak ini mampu hidup di kawasan yang relatif ‘sulit’ terutama bila pakan yang tersedia berkualitas rendah. Dalam kondisi kualitas pakan yang tersedia relatif kurang baik, setidaknya pertumbuhan kerbau dapat menyamai atau justru  lebih baik dibandingkan sapi, dan masih dapat berkembangbiak dengan baik. 

Gambar Kerbau Marongge (Sumber: Krisna Euy, You Tube 19072019)

 Kerbau dapat berkembang baik dalam rentang kondisi agroekosistem yang sangat luas dari daerah dengan kondisi basah sampai kondisi yang kering (Hardjosubroto 2006).  Di Desa Marongge Kecamatan Tomo Kabupaten Sumedang populasi kerbau cukup banyak dan telah menyatu dengan kondisi alam, sosial dan budaya setempat.  Kerbau ini mampu hidup pada kawasan yang relatif sulit terutama bila pakan yang tersedia berkualitas sangat rendah.  Untuk menjaga kulaitas genetik Kerbau Marongge antara lain adalah dapat dilakukan program seleksi dalam bangsa yang dapat dilaksanakan dalam kelompok peternak dengan ternaknya secara sederhana dipedesaan tanpa catatan dalam bentuk recording  di atas kertas melainkan catatan berulang yang dicatat dalam bentuk cap bakar pada tubuh ternak induk dan anaknya. Satu catatan yang diperlukan adalah bobot sapih atau bobot pada sekitar 6-7 bulan. Jika tidak ada timbangan dapat dilakukan dengan mengukur lingkar dada. Ukuran lingkar dada tidak perlu diterjemahkan ke dalam taksiran bobot badan. Ukuran ini hanya dipakai untuk membandingkan satu anak ternak (kerbau) dari yang lain dalam kelompok umur dan daerah yang sama.  Anak kerbau yang merupakan 10-20 persen terbaik ditetapkan sebagai bibit pilihan dan diberi cap bakar A seterusnya kelompok B adalah yang merupakan sisa yang berukuran di atas rataan kelompoknya.  Induk dari anak kerbau kelas A diberi cap A pula.  Selanjutnya bibit pilihan jantan dan betina dijadikan calon pejantan dan induk untuk menghasilkan generasi selanjutnya.   Pemuliaan ternak berkelanjutan diimplementasikan dalam kesinambungan program dan tujuan pemuliaan yang paripurna secara terus menerus sehingga dihasilkan ternak yang berkualitas genetik tinggi dan responsif terhadap teknologi.   Philipsson dan Rege (2002) menyatakan, kegiatan pemuliaan ternak bertujuan untuk meningkatkan produktivitasnya serta berkaitan erat dengan pembangunan masyarakat yang berkelanjutan dengan memperhatikan kesempatan peningkatan kesejahteraan dari ternak yang dimilikinya. Oleh karenanya program pemuliaan ternak erat kaitannya dengan aspek: (i) kebijakan pemerintah (ii) peran peternak, (iii) infrastruktur (sarana-prasarana), dan (iv) kesesuaian genotipe dengan lingkungan sehingga sumberdaya ternak yang tersedia cocok dengan lingkungannya.   Di negara berkembang agraris seperti Indonesia, kerbau lumpur umumnya digunakan sebagai ternak kerja pengolah lahan. Hal ini dikarenakan kerbau mempunyai kekuatan dan daya tahan yang baik dalam bekerja. Kerbau lebih baik dibandingkan sapi pada kondisi basah atau terendam air ditempat berlumpur sehingga kerbau dapat menarik bajak di tanah berlumpur dan dalam kondisi tertentu cocok untuk ternak kerja.  Oleh sebab itu tujuan pemuliaan yang mungkin dapat dirumuskan adalah mendapatkan kerbau lumpur yang unggul sebagai tenaga pengolah lahan pertanian. 

Editor : agus purwanto
×
Berita Terbaru Update