-->

Notification

×

Iklan

Ketua Forum KDMP Ryan Haqi Sayangkan Sikap Penolakan Halus Terhadap Bahan Baku Lokal untuk Program MBG Dapur Cibingbin

9 Apr 2026 | April 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-09T16:22:49Z

Ketua Forum KDMP : Ryan Haqi

 
Aspirasi Jabar || Purwakarta - Bojong Dapur, Cibingbin – Ketua Forum KDMP, Ryan Haqi, menyampaikan keprihatinan dan rasa sangat menyayangkan atas sikap yang dinilai tidak sejalan dengan semangat awal kemitraan antara pihak mitra, yayasan MBG Cibingbin, dan KDMP dalam pemenuhan kebutuhan bahan baku program Makan Bergizi Gratis (MBG).

 
Menurut Ryan, kerja sama yang sebelumnya telah dibangun melalui nota kesepahaman (MoU) semestinya menjadi pijakan yang kuat untuk menciptakan hubungan kemitraan yang adil, terbuka, dan saling menguatkan, khususnya dalam mendorong pemanfaatan potensi lokal di wilayah Bojong Dapur, Desa Cibingbin, dan sekitarnya. kamis (09/04). 

 
Namun dalam pelaksanaannya, Forum KDMP menilai bahwa berbagai penawaran bahan baku yang diajukan justru kerap mendapat penolakan secara halus, dengan alasan yang berulang bahwa barang dinilai “tidak bagus” atau “tidak sesuai.”

 
Ryan menegaskan, apabila alasan tersebut memang didasarkan pada standar kualitas, maka semestinya hal itu disampaikan secara objektif, profesional, dan terbuka, melalui parameter mutu yang jelas, evaluasi yang terukur, serta ruang perbaikan yang nyata bagi mitra lokal.

 
“Kalau kemitraan hanya ramah saat penandatanganan, tetapi dingin saat pelaksanaan, maka publik tentu berhak bertanya: yang sedang dibangun ini benar-benar kerja sama, atau sekadar citra kerja sama?” ujar Ryan.

 
Ia menilai, kondisi seperti ini berpotensi menimbulkan kesan negatif di tengah masyarakat, seolah-olah mitra lokal hanya dibutuhkan ketika nama dan perannya diperlukan dalam dokumen, tetapi tidak sungguh-sungguh diberi ruang saat realisasi program berjalan.

 
“Jangan sampai MoU hanya berhenti sebagai arsip yang enak difoto, tetapi tidak enak dijalankan. Masyarakat hari ini tidak lagi mudah diyakinkan oleh seremoni. Mereka melihat siapa yang benar-benar diberi kesempatan, dan siapa yang hanya dijadikan pelengkap narasi,” lanjutnya.

 
Ryan menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menolak pentingnya kualitas. Bahkan, menurutnya, KDMP mendukung penuh penerapan standar mutu demi kelancaran dan keberhasilan program MBG. Akan tetapi, ia mengingatkan bahwa standar kualitas tidak boleh berubah menjadi tameng, dan mutu tidak boleh dijadikan alasan yang terus-menerus dipakai untuk menutup ruang bagi pelaku usaha dan penyedia bahan baku lokal.

 
“Kalau semua barang lokal selalu dianggap kurang bagus, maka yang patut dipertanyakan bukan hanya barangnya, tetapi juga kejujuran niat dalam menjalankan kemitraan itu sendiri,” tegas Ryan.

 
Ia juga menilai bahwa masyarakat dapat membedakan antara proses evaluasi yang sehat dengan penolakan yang dibungkus dengan bahasa sopan. Karena itu, bila pola seperti ini terus berulang, maka sangat wajar apabila publik akhirnya menilai bahwa terdapat ketidaksesuaian antara isi kesepakatan dengan realitas di lapangan.

 
“Jangan ajak masyarakat bicara pemberdayaan kalau pada akhirnya yang diberdayakan hanya bahasa-bahasa manis di forum rapat. Kemitraan sejati itu bukan diuji saat penandatanganan, melainkan saat belanja benar-benar dilakukan,” ujarnya.

 
Sebagai Ketua Forum KDMP, Ryan berharap seluruh pihak yang telah terlibat dalam kesepakatan ini dapat kembali pada komitmen awal, yakni menjadikan kerja sama sebagai wadah pemberdayaan yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Ia juga mendorong agar seluruh proses pengadaan kebutuhan bahan baku untuk program MBG dijalankan dengan prinsip transparansi, kejelasan standar, keadilan bagi mitra lokal, dan komitmen yang sungguh-sungguh terhadap isi MoU.

 
Menurut Ryan, masyarakat tidak menuntut perlakuan istimewa. Masyarakat hanya menginginkan satu hal yang sederhana, yaitu kejujuran dalam bermitra. “Kalau memang diajak bermitra, maka bermitralah dengan jujur. Karena yang paling menyakitkan bukan sekadar penolakan, melainkan ketika kerja sama diumumkan dengan bangga, tetapi pelaksanaannya justru dijalankan dengan setengah hati,” pungkasnya.

Laporan : Ded
×
Berita Terbaru Update