Aspirasi Jabar Morotai - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ir. Soekarno Pulau Morotai tengah mempersiapkan pengoperasian gedung baru Cath Lab (Laboratorium Kateterisasi). Fasilitas ini nantinya akan menjadi pusat penanganan penyakit jantung dan stroke, termasuk tindakan intervensi seperti pemasangan cincin jantung.
Direktur RSUD Ir. Soekarno, dr. Christie Mamarimbing, menjelaskan bahwa bangunan fisik laboratorium tersebut telah rampung pada akhir tahun lalu. Saat ini, fokus utama dialihkan pada pengadaan alat kesehatan dan pemenuhan standar operasional dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
“Gedung ini fungsinya untuk kateterisasi jantung dan otak bagi penderita jantung dan stroke. Bangunannya sudah selesai, tinggal menunggu pengisian alat Cath Lab dari Kemenkes yang nilainya mencapai belasan miliar rupiah,” ujar dr. Christie, pada Selasa (31/3/2026).
Meski gedung telah tersedia, dr. Christie menyebutkan ada beberapa syarat ketat yang harus dipenuhi agar bantuan alat dari Kemenkes segera diturunkan. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah ketersediaan daya listrik.
Alat Cath Lab membutuhkan daya minimal 200 KVA. Saat ini, daya total di RSUD sudah terpakai sepenuhnya. Untuk mengoperasikan fasilitas baru ini, rumah sakit setidaknya membutuhkan penambahan daya hingga total 400 KVA.
“Harapan kami ada dukungan penuh dari Pemerintah Daerah (Pemda) untuk meningkatkan sarana prasarana, terutama kenaikan daya listrik ini. Jika infrastruktur dasar belum siap, bantuan alat dari pusat bisa saja ditunda ke tahun depan,” tegasnya.
Selain infrastruktur, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi poin krusial. RSUD membutuhkan tim ahli yang terdiri dari dokter spesialis jantung intervensi, spesialis saraf intervensi, serta tenaga paramedis pendukung.
Saat ini, dokter spesialis saraf intervensi yang sebelumnya ada telah ditarik oleh Kemenkes untuk bertugas di Weda. Sementara itu, untuk spesialis jantung, RSUD sudah memiliki dokter ahli, namun belum memiliki kualifikasi untuk tindakan intervensi.
Sebagai langkah strategis, dr. Christie berencana menjalin kerja sama melalui Memorandum of Understanding (MoU) dengan rumah sakit lain.
“Kami berencana membangun kerja sama dengan RS di Tobelo atau RSUP Kandou Manado. Skemanya bisa berupa pengiriman satu tim dokter dan perawat untuk melakukan tindakan secara berkala di sini, sehingga pelayanan tetap berjalan meski tenaga tetap belum tersedia penuh,” tambahnya.
Berdasarkan jadwal, pengadaan alat dari Kemenkes diproyeksikan pada akhir tahun 2026. Namun, dr. Christie menekankan bahwa semua bergantung pada penilaian kesiapan sarana dan SDM di lapangan.
“Harapan kami semua bisa maksimal. Jika dukungan biaya dari Pemda untuk listrik dan dukungan untuk tim kesehatan sudah siap, alat bisa segera datang dan masyarakat Morotai tidak perlu jauh-jauh lagi untuk mendapatkan penanganan jantung dan stroke,” pungkasnya.(oje)
