-->

Notification

×

Iklan

TALK SHOW DAN "NGOPI MANGROVE" PERINGATI HARI MANGROVE SEDUNIA, REKTOR UNIPAS SARANKAN PENDEKATAN YANG MENYEJAJARKAN GENERASI SEKARANG DAN MENDATANG

25 Jul 2026 | Juli 25, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-25T14:52:01Z

 
Aspirasi Jabar || MOROTAI SELATAN, 25 Juli 2026 – Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Pulau Morotai menggelar acara Talk Show diselingi kegiatan "Ngopi Mangrove" dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia 2026. Acara yang mengusung tema "Menjaga Mangrove Mengamankan Generasi Mendatang" ini diinisiasi oleh KKMD Pulau Morotai berkolaborasi dengan Kementerian Kehutanan RI, bertempat di To’moro Coffee, Jalan Raya Dareme, Kecamatan Morotai Selatan, Sabtu (25/7).


 
Dalam diskusi tersebut, Rektor Universitas Pasifik (UNIPAS) Pulau Morotai, Irfan Hi Abdul Rahman, memberikan kritikan filosofis terkait pemaknaan tema yang diusung. Menurutnya, pemaknaan tema pelestarian hendaknya tidak mengesampingkan hak hidup dan pemanfaatan ekonomi masyarakat saat ini.
 


"Terkait dengan tema besar yang diusung, seolah-olah generasi hari ini tidak memiliki hak untuk memanfaatkan mangrove dan hanya diposisikan sebagai penjaga serta pengawas untuk generasi mendatang. Secara filosofis, logika ini agak keliru dan bertentangan dengan hak hidup kita hari ini. Harusnya mencakup generasi hari ini dan generasi yang akan datang," ungkap Irfan.
 


Ia menambahkan bahwa kekeliruan narasi atau definisi tematik seperti ini sering kali memicu resistensi di tingkat bawah. Masyarakat lokal yang menggantungkan tumpuan ekonominya pada ekosistem mangrove kerap merasa dirugikan ketika diimbau untuk tidak menyentuh kawasan tersebut sama sekali tanpa diberikan solusi alternatif.
 


Lebih lanjut, Irfan mengajak peserta diskusi untuk mendalami urgensi mendasar dari perlindungan mangrove. Berdasarkan tren data global periode 1996 hingga 2024, terjadi penurunan luas tutupan mangrove yang cukup drastis, yakni sekitar 4,3 persen.
 


Namun, Irfan menyoroti bahwa upaya penanganan selama ini masih terjebak pada level seremonial dan formalitas belaka. "Kita memperingati atau menanam mangrove kerap hanya dalam konteks formalistik, belum menyentuh aspek teknis maupun menjadi gerakan organik di tengah masyarakat," tegasnya.
 


Sebagai akademisi, Irfan menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dalam upaya restorasi lingkungan. Merujuk pada berbagai hasil penelitian, kunci keberhasilan rehabilitasi maupun restorasi mangrove justru terletak pada keterlibatan dan pemberdayaan komunitas lokal.
 


"Jika kita ingin mangrove ini survive dan tumbuh dengan baik, maka pemberdayaan komunitas menjadi hal yang sangat krusial. Peraturan di tingkat lokal (Perdes) yang mendorong peran aktif komunitas merupakan langkah ilmiah yang tepat agar penanganan mangrove benar-benar menjadi gerakan bersama rakyat," pungkasnya.
 
(oje)
×
Berita Terbaru Update