Aspirasi Jabar || Sumedang — Upaya mendorong masyarakat agar tidak sekadar menjadi penerima manfaat, tetapi mampu tumbuh dan mandiri terus dilakukan PLN Indonesia Power UBP Jatigede. Kali ini, kolaborasi bersama Perum Jasa Tirta II (PJT II) Wilayah V Cirebon diwujudkan melalui program pemberdayaan masyarakat di Desa Wado dan Desa Darmaraja, Kabupaten Sumedang.
Program tersebut menyentuh dua sektor yang memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, yakni pengembangan ekonomi melalui budidaya ikan sistem bioflok serta penguatan kepedulian terhadap lingkungan melalui penyediaan bak sampah.
Kehadiran program ini menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat sekitar wilayah operasional agar memiliki kapasitas, keterampilan, sekaligus peluang ekonomi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Sistem bioflok sendiri bukan sekadar metode budidaya ikan biasa. Teknologi ini telah lama dikembangkan dan didorong oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) karena dinilai efisien dalam penggunaan lahan, air, dan pakan. KKP juga menyebut bioflok sebagai salah satu teknologi budidaya yang adaptif dan ramah lingkungan.
Bahkan dalam praktiknya, teknologi bioflok memungkinkan budidaya dilakukan pada lahan yang relatif terbatas. Efisiensi penggunaan air dan pakan menjadi salah satu keunggulan yang membuat sistem tersebut menarik untuk dikembangkan sebagai usaha masyarakat.
Di sisi lain, penyediaan bak sampah membawa pesan yang tidak kalah penting: pembangunan ekonomi tidak boleh berjalan dengan mengabaikan lingkungan.
Pengelolaan sampah merupakan persoalan yang memiliki konsekuensi langsung terhadap kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat. Secara nasional, pengelolaan sampah telah memiliki landasan melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang hingga kini berstatus berlaku.
Bukan Sekadar Bantuan, tetapi Membangun Kemandirian
Program yang dilaksanakan PLN Indonesia Power UBP Jatigede bersama PJT II Wilayah V Cirebon tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang kolam ikan atau tempat sampah.
Lebih jauh, program itu menyentuh dua kebutuhan mendasar masyarakat: penguatan ekonomi dan kepedulian terhadap lingkungan.
Budidaya ikan melalui sistem bioflok diharapkan dapat membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan pemanfaatan potensi lokal. Sementara keberadaan bak sampah diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat agar pengelolaan sampah dilakukan secara lebih tertib dan bertanggung jawab.
Konsep pemberdayaan semacam ini sejalan dengan pendekatan PLN Indonesia Power melalui program InPower CARE, yang mencakup pelayanan masyarakat, pembinaan hubungan, dan pemberdayaan masyarakat dengan sasaran antara lain peningkatan kualitas lingkungan serta penguatan ekonomi masyarakat.
Komitmen tersebut juga terlihat dari berbagai program TJSL UBP Jatigede sebelumnya. Pada Juli 2026, misalnya, UBP Jatigede menjalankan program penyediaan akses air bersih bagi masyarakat sekitar melalui pemasangan pipa dan pembangunan bak penampungan air.
Jatigede dan Tantangan Menjaga Keseimbangan
Pengembangan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan Jatigede memiliki tantangan tersendiri. Pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan keberlanjutan lingkungan, terutama karena kawasan tersebut berkaitan erat dengan keberadaan Waduk Jatigede dan pembangkit listrik tenaga air.
Karena itu, pengembangan budidaya ikan berbasis bioflok di darat dapat menjadi salah satu pilihan yang menarik untuk dikembangkan secara terukur.
Anggota Komisi XII DPR RI Ateng Sutisna sebelumnya juga mendorong agar program TJSL PLN IP UBP Jatigede diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat di desa-desa sekitar Waduk Jatigede, termasuk melalui budidaya ikan menggunakan kolam terpal maupun bioflok. Ia juga menekankan pentingnya pendampingan, kepastian pasar, serta indikator keberhasilan yang jelas.
Artinya, keberhasilan program tidak semestinya berhenti pada berapa banyak kolam yang dibangun atau sarana yang diserahkan.
Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah apakah masyarakat mampu mengelolanya, menghasilkan pendapatan, mengembangkan usaha, dan mempertahankan program tersebut setelah bantuan selesai.
Begitu pula dengan bak sampah. Keberadaannya baru benar-benar memberikan manfaat apabila diikuti kesadaran memilah, mengumpulkan, mengangkut, dan mengelola sampah secara konsisten.
Kolaborasi Menjadi Kunci
PLN Indonesia Power UBP Jatigede menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program yang memberikan manfaat berkelanjutan melalui sinergi dengan masyarakat dan para pemangku kepentingan.
Kolaborasi dengan PJT II Wilayah V Cirebon dalam program di Desa Wado dan Desa Darmaraja menjadi salah satu contoh bahwa pemberdayaan masyarakat tidak harus berjalan sendiri-sendiri.
Jika dikelola secara konsisten, kolam bioflok dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi produktif, sementara pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari budaya masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Pada akhirnya, substansi program pemberdayaan bukan terletak pada besarnya bantuan yang diberikan, melainkan pada seberapa jauh bantuan tersebut mampu mengubah masyarakat dari penerima manfaat menjadi masyarakat yang produktif dan mandiri.
Dari kolam ikan hingga bak sampah, pesan yang dibawa cukup jelas: pembangunan di sekitar Jatigede bukan hanya tentang menghasilkan energi, tetapi juga bagaimana manfaat keberadaan kawasan tersebut dapat kembali dirasakan masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan.
***
Editor : Aep M