-->

Notification

×

Iklan

GHIROH TAK PERNAH SURUT, DEMI MUKTAMAR NU KE-35, YAI GUSMUN RELA MELEPAS SEJUMLAH UNDANGAN

26 Agu 2026 | Agustus 26, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-26T11:14:37Z

Aspirasi Jabar || PURWAKARTA - Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 tahun 2026 bukan sekadar agenda organisasi bagi seorang kader muda NU. Bagi Kiai Saepunawai, yang akrab disapa Yai Gusmun, momentum tersebut menjadi bagian dari panggilan kecintaan dan ghiroh terhadap Nahdlatul Ulama.


Kecintaan itu terlihat dari pilihannya untuk hadir langsung dalam rangkaian Muktamar NU ke-35 bersama rombongan PCNU Purwakarta, meski pada waktu yang sama sejumlah undangan kegiatan keagamaan telah diterimanya.


Salah satu agenda yang harus dilepas adalah undangan Maulid Nabi Muhammad SAW di Salah satu Lapas . Panitia Maulid dari DKM Masjid di lingkungan Lapas Purwakarta sebelumnya telah menghubungi Yai Gusmun untuk menghadiri acara yang dijadwalkan pada Jumat, 28 Agustus 2026 pukul 08.00 WIB.


Namun, karena pada waktu tersebut Yai Gusmun memilih memenuhi agenda Muktamar NU ke-35, undangan tersebut tidak dapat dipenuhinya secara langsung. Sebagai bentuk penghormatan kepada panitia, ia pun merekomendasikan orang lain untuk menggantikannya dalam mengisi agenda tersebut.


Hal serupa terjadi pada undangan kegiatan keagamaan lainnya di wilayah Subang, termasuk agenda malam Kamis yang sebelumnya juga direncanakan menghadirkan dirinya.


Keputusan tersebut bukan berarti mengurangi kecintaannya terhadap kegiatan keagamaan maupun masyarakat. Justru, sikap itu menunjukkan bagaimana seorang kader NU menempatkan agenda organisasi yang dianggap penting, sembari tetap menjaga komunikasi dan penghormatan kepada para pengundang.


Bagi Yai Gusmun, hadir dalam Muktamar NU bukan hanya soal datang ke sebuah forum besar organisasi. Ada semangat untuk mengikuti dinamika, menyerap gagasan, memperkuat silaturahmi antarkader, serta ikut merasakan denyut perjuangan Nahdlatul Ulama.


"Kalau ada agenda NU yang waktunya bersamaan, tentu saya prioritaskan NU. Bukan berarti undangan masyarakat tidak penting. Justru karena menghargai para pengundang, saya carikan orang yang bisa menggantikan agar kegiatan tetap berjalan dengan baik."


Sikap Yai Gusmun tersebut menjadi potret kecil tentang bagaimana ghiroh terhadap NU tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui pilihan dan pengorbanan waktu.


Sejumlah undangan harus dilepas. Sejumlah agenda harus dialihkan kepada kader atau tokoh lain. Namun, semangat untuk hadir bersama keluarga besar NU tetap menjadi pilihan.


Di tengah kesibukan sebagai seorang kiai muda dan tokoh yang aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial, Yai Gusmun menunjukkan bahwa kecintaan terhadap NU dapat diwujudkan dengan sederhana: hadir ketika organisasi memanggil, menjaga silaturahmi ketika tidak dapat hadir, dan tetap memberikan ruang kepada kader lain untuk berkhidmat.


Muktamar NU ke-35 tahun 2026 pun menjadi momentum tersendiri bagi Yai Gusmun. Bersama rombongan PCNU Purwakarta, ia memilih menjadi bagian dari perjalanan panjang organisasi yang selama ini menjadi tempatnya berkhidmat.


*Karena bagi seorang kader, khidmah bukan hanya tentang berada di mana ia dibutuhkan masyarakat, tetapi juga tentang kesediaan hadir ketika Nahdlatul Ulama memanggil.*


Editor : Redaksi 
×
Berita Terbaru Update