-->

Notification

×

Iklan

Proyek Jalan Burujul–Sanca Kembali Senyap, Baru Tiga Hari Dikerjakan? Rp36 Miliar Dipertanyakan

26 Agu 2026 | Agustus 26, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-26T03:31:58Z

Aspirasi jabar || Sumedang – Harapan masyarakat terhadap tuntasnya pembangunan Jalan Burujul–Sanca kembali diuji. Setelah sempat terhenti dan kemudian dikabarkan dilanjutkan pada Agustus 2026, aktivitas proyek di ruas strategis penghubung Kecamatan Buahdua dengan wilayah Sanca itu kembali menjadi sorotan.

Pantauan di lokasi pada Rabu (26/8/2026) menunjukkan tidak terlihat aktivitas pengerjaan proyek. Tidak tampak pekerja maupun kegiatan konstruksi yang berarti. Di sejumlah titik hanya terlihat gundukan kecil material berupa pasir dan batu pasang.

Kondisi tersebut menimbulkan tanda tanya, terlebih sebelumnya proyek dikabarkan kembali bergerak setelah Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir bersama PPK dan pihak terkait dari Kementerian/Dinas PU meninjau lokasi.

Menurut keterangan warga yang berada di sekitar lokasi, setelah peninjauan tersebut pekerjaan memang sempat kembali dilakukan. Namun, aktivitas pengerjaan disebut hanya berlangsung sekitar tiga hari, setelah itu kembali tidak terlihat kegiatan berarti di lapangan.

Jika benar demikian, pertanyaan publik tentu bukan lagi sekadar kapan jalan tersebut selesai, melainkan mengapa proyek bernilai puluhan miliar rupiah itu kembali berjalan tersendat?

Rp36 Miliar, tetapi Lapangan Kembali Sepi
Proyek Jalan Burujul–Sanca bukan pekerjaan kecil. Pemerintah sebelumnya menyampaikan bahwa ruas jalan sepanjang kurang lebih 4 kilometer tersebut mendapatkan dukungan anggaran sekitar Rp36 miliar melalui program Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD). Rencana awal pengerjaan disebut dimulai pada akhir Januari 2026.

Ruas tersebut juga memiliki arti penting karena menjadi akses penghubung kawasan perbatasan Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Indramayu. Pemerintah menyebut perbaikan jalan diharapkan memperlancar mobilitas masyarakat, konektivitas antarwilayah, hingga distribusi hasil pertanian. Namun perjalanan proyek ternyata tidak semulus harapan.

Sejumlah pemberitaan sebelumnya mencatat proyek tersebut sempat mengalami penghentian atau keterlambatan. Bahkan, laporan media pada April 2026 menyebut adanya persoalan terkait ketersediaan DIPA dan dinamika internal penyedia jasa yang ikut memengaruhi keberlangsungan pekerjaan. 

Kini, ketika pemerintah kembali menyatakan pekerjaan dilanjutkan pada Agustus, masyarakat tentu berharap bukan sekadar “dikerjakan kembali”, tetapi benar-benar ada progres fisik yang konsisten hingga selesai.

Pada 11 Agustus 2026, Bupati Dony Ahmad Munir kembali meninjau Jalan Burujul–Sanca bersama sejumlah pihak terkait, termasuk perwakilan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PU, Dinas PUPR, unsur kecamatan, kepolisian dan TNI.

Dalam penyampaiannya pada saat itu disebutkan bahwa pembangunan kembali dilanjutkan dan ditargetkan rampung pada 2026.
Bahkan pada Agustus 2026, Bupati juga kembali menyampaikan bahwa pekerjaan Burujul–Sanca yang sebelumnya tertunda mulai dikerjakan lagi.

Tetapi kondisi lapangan pada Rabu (26/8/2026) justru memperlihatkan pemandangan berbeda: proyek kembali sepi.

Di sinilah transparansi menjadi penting.
Masyarakat berhak mengetahui apa penyebab pekerjaan kembali berhenti, bagaimana progres fisiknya, berapa persen pekerjaan yang telah terealisasi, berapa nilai pekerjaan yang sudah dibayarkan, serta kapan pekerjaan benar-benar akan dilanjutkan secara penuh.

Sebab, proyek infrastruktur yang menggunakan anggaran negara tidak cukup hanya ditandai dengan adanya material di pinggir jalan. Ukuran keberhasilannya adalah progres pekerjaan yang nyata, terukur, sesuai kontrak, tepat mutu dan tepat waktu.

Sorotan terhadap proyek ini semakin beralasan karena sebelumnya masyarakat sudah cukup lama menunggu perbaikan ruas Burujul–Sanca.

Pemerintah sendiri sejak awal telah menempatkan jalan tersebut sebagai bagian penting dalam peningkatan konektivitas wilayah. Bahkan, dalam dokumen tata ruang Kabupaten Sumedang, ruas Burujul–Sanca tercantum sebagai bagian dari jaringan jalan kolektor primer-3.

Karena itu, publik tentu patut mempertanyakan apabila proyek yang seharusnya menjadi solusi atas persoalan infrastruktur justru kembali menghadirkan ketidakpastian.

Jangan sampai proyek hanya terlihat hidup ketika pejabat datang meninjau, lalu kembali senyap setelah rombongan meninggalkan lokasi.

Tentu, dugaan tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai fakta. Namun kondisi lapangan yang kembali sepi setelah pekerjaan disebut hanya berlangsung sekitar tiga hari menjadi alasan kuat bagi pihak pelaksana dan pemerintah untuk memberikan penjelasan terbuka.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan proyek Jalan Burujul–Sanca?
Apakah pekerjaan memang dihentikan sementara karena persoalan teknis? Apakah ada kendala administrasi, kontrak, pembayaran, material, tenaga kerja, atau persoalan penyedia jasa? Atau memang pekerjaan sedang menunggu tahapan berikutnya?
Semua itu seharusnya dapat dijelaskan secara terbuka oleh PPK, pihak penyedia jasa, maupun instansi terkait.

Sebab semakin lama proyek berhenti tanpa penjelasan yang terang, semakin besar pula ruang publik untuk berspekulasi.
Masyarakat tidak membutuhkan janji bahwa jalan akan segera selesai. Mereka membutuhkan kepastian pekerjaan benar-benar berjalan.

Dengan nilai proyek sekitar Rp36 miliar, setiap rupiah anggaran harus dapat dipertanggungjawabkan, sementara setiap tahapan pekerjaan harus dapat dilihat dan dinilai secara terbuka.

Jalan Burujul–Sanca bukan sekadar hamparan aspal. Bagi warga, ruas ini menyangkut akses pendidikan, aktivitas ekonomi, distribusi hasil pertanian dan mobilitas sehari-hari.

Karena itu, yang dibutuhkan sekarang bukan lagi seremoni peninjauan, melainkan bukti nyata di lapangan.

Dan pada akhirnya, masyarakat berhak mendapatkan jawaban sederhana kapan Jalan Burujul–Sanca benar-benar selesai dan dapat dinikmati tanpa lagi dihantui proyek yang datang-pergi dan berhenti-berhenti?


Jurnalis : Aep Mulyana



×
Berita Terbaru Update