Aspirasi jabar || Sumedang – Pembangunan Jalan Burujul–Sanca kembali dilanjutkan. Namun, di tengah aktivitas pekerjaan yang mulai bergeliat, persoalan keamanan justru menjadi catatan serius setelah terjadi pencurian kabel dan baterai pada salah satu alat berat di lokasi proyek.
Kondisi tersebut mendorong Camat Buahdua menggelar rapat koordinasi di Aula Desa Gendereh, Selasa (29/9/2026). Rapat dihadiri Forkopimcam, perwakilan perusahaan, kepala UPTD PU wilayah Buahdua, Karang Taruna, pihak rekanan, serta tokoh masyarakat setempat.
Dalam rapat, persoalan pengamanan alat berat menjadi sorotan. Perwakilan Karang Taruna Desa Gendereh menyampaikan bahwa pihaknya sebelumnya telah mengusulkan kepada perusahaan agar menambah personel penjagaan.
Namun, usulan tersebut disebut terkendala alasan anggaran.
Yang menjadi pertanyaan, apakah penghematan biaya pengamanan justru harus dibayar dengan kerugian akibat pencurian?
Berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam rapat, perusahaan hanya meminta dua orang untuk membantu menjaga alat berat. Padahal, jumlah alat berat yang berada di sepanjang jalur proyek disebut mencapai sekitar 10 unit dan tersebar di sejumlah titik.
Situasi tersebut tentu menimbulkan tanda tanya. Dua orang harus mengawasi sekitar 10 alat berat yang lokasinya tidak berada dalam satu titik. Secara logika pengamanan, kondisi seperti ini patut dipertanyakan efektivitasnya.
Terlebih, kejadian pencurian sudah terjadi.
Jika sejak awal sudah ada usulan penambahan personel tetapi terbentur alasan anggaran, kesannya perusahaan terlalu berhitung dalam mengeluarkan biaya untuk pengamanan aset proyek.
Padahal, pengamanan bukan semata-mata pengeluaran tambahan. Itu merupakan bagian penting dari upaya memastikan pekerjaan berjalan tanpa gangguan dan aset yang digunakan untuk pembangunan tetap aman.
Ironisnya, ketika satu unit alat berat kehilangan kabel dan baterai, kerugian yang muncul bisa saja lebih besar dibanding biaya tambahan untuk memperkuat penjagaan.
Jangan Sampai Mengejar Efisiensi, Malah Menambah Kerugian.
Proyek Jalan Burujul–Sanca bukan pekerjaan bernilai kecil. Pemkab Sumedang sebelumnya menyebut pembangunan ruas sepanjang sekitar 4 kilometer tersebut mendapat dukungan anggaran sekitar Rp36 miliar melalui program Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD).
Dengan nilai pekerjaan sebesar itu, wajar jika aspek keamanan mendapat perhatian serius.
Masyarakat tentu tidak ingin proyek yang sudah lama dinantikan kembali terganggu hanya karena persoalan pengamanan yang sebenarnya dapat diantisipasi.
Pihak rekanan semestinya dapat menghitung secara rasional: berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menambah penjagaan dibandingkan potensi kerugian apabila alat berat kembali menjadi sasaran pencurian?
Jangan sampai alasan efisiensi anggaran justru berubah menjadi penghematan yang keliru.
Kini, setelah kasus pencurian terjadi, bola berada di tangan pihak terkait. Rapat koordinasi yang digelar Camat Buahdua diharapkan menghasilkan langkah nyata, bukan sekadar pembahasan.
Karena masyarakat membutuhkan jalan yang segera selesai, bukan proyek yang kembali tersendat akibat persoalan keamanan.
Dan yang tak kalah penting, publik berhak mendapatkan kepastian bahwa setiap rupiah dalam proyek pembangunan tersebut dikelola dengan baik, termasuk memastikan pekerjaan dan aset pendukungnya terlindungi.
Proyek jalan harus dikawal. Alat berat harus dijaga. Jangan sampai demi menghemat biaya penjagaan, justru biaya kerugian yang akhirnya membengkak.
Jurnalis : Aep Mulyana
