Aspirasi jabar || Sumedang
Pasca penangkapan terhadap inisial“K”, seorang oknum yang diduga mengaku sebagai wartawan dan telah menjadi buronan selama satu bulan, Unit Jatanras Polres Sumedang mendapat sorotan publik. Penangkapan yang dilakukan oleh aparat kepolisian ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk sejumlah Dewan Pengurus Kecamatan (DPK) Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) di wilayah Sumedang.
Bentuk apresiasi itu terlihat dengan hadirnya sejumlah karangan bunga yang terpajang di halaman Mapolres Sumedang. Karangan bunga tersebut memuat ucapan selamat dan dukungan kepada Polres Sumedang atas keberhasilannya dalam menegakkan hukum.
Namun, di balik apresiasi tersebut, muncul pertanyaan dari masyarakat terkait sumber anggaran karangan bunga yang dikirimkan oleh beberapa DPK APDESI. Publik mempertanyakan apakah penggunaan dana untuk keperluan tersebut bersumber dari anggaran desa, iuran pribadi, atau ada sumber lain yang jelas.
“Sah-sah saja memberi dukungan kepada aparat penegak hukum, tapi harus jelas dan transparan kalau sudah menyangkut anggaran, dan yang paling utama, jangan sampai tuduhan pidana menjadi alat untuk membungkam atau mendiskreditkan individu yang kritis atau aktif di lapangan", ujar Yus Yusdhistira salah satu pemerhati kebijakan publik di Sumedang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak DPK APDESI terkait pembiayaan karangan bunga tersebut. Sementara itu, Penangkapan terhadap “K” sendiri menjadi atensi publik lantaran yang bersangkutan sempat buron selama satu bulan, dan diduga melakukan tindakan yang mencoreng profesi wartawan serta merugikan pihak lain.
Yus berharap kasus ini dapat menjadi momentum penegakan hukum yang lebih tegas serta pembenahan etika dan integritas di semua lini, termasuk dalam hal transparansi anggaran yang melibatkan organisasi publik seperti APDESI. Pungkasnya.
Jurnalis : Aep Mulyana
