Aspirasi Jabar || Kota Bekasi - Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi dinilai kurang responsif terhadap hilangnya plakat Tugu Monumen Kali Bekasi, yang menuai kritik dari Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) Distrik Kota Bekasi.
Asep Sukarya sekretaris GMBI didampingi jajaran pengurus, Kamto, Hery Kuswanto dan Fajar Ariesta mendatangi kedutaan Jepang di Jl. M.H. Thamrin No.24, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis. (21/08/25) untuk menyerahkan surat resmi terkait hilangnya plakat monumen tersebut.
Hal ini dilakukan LSM GMBI Distrik Kota Bekasi karena lambatnya respon Pemkot Bekasi dalam menindaklanjuti laporan masyarakat.
Asep mengaku telah bertemu pejabat Dinas terkait (Disparbud) Kota Bekasi, namun terkesan kurang tanggap dalam merespon.
"Iya, saya sudah menemui salah seorang pejabat Dinas Pariwisata da Kebudayaan Kota Bekasi",ucapnya
Asep menceritakan bahwa monumen Kali Bekasi dibangun sebagai bentuk kerja sama antara Pemerintah Kota Bekasi dan Kedutaan Besar Jepang pada tahun 2003-2004. Monumen ini didirikan untuk mengenang peristiwa pembantaian 90 tentara Jepang oleh rakyat Bekasi pada 19 Oktober 1945. Peristiwa ini terjadi setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, di mana rakyat Bekasi yang marah akibat kekejaman tentara Jepang pada masa penjajahan melakukan penyerangan terhadap tentara Jepang yang sedang melintas di Bekasi .
"Menjadi saksi bisu atas keberanian rakyat Bekasi dalam melawan penjajah dan memiliki nilai historis yang tinggi sebagai simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia",tambahnya.
Kamto dan Hery Kuswanto pengurus GMBI mengatakan bahwa monumen ini menjadi pengingat akan nilai-nilai perjuangan dan nasionalisme bagi generasi muda dan juga sebagai simbol perdamaian dan kasih sayang, serta sebagai pengingat akan pentingnya menghindari kekerasan dalam menyelesaikan konflik .
Mereka menjelaskan monumen ini juga menjadi simbol hubungan diplomasi antara Indonesia dan Jepang di masa modern, yang mencerminkan bahwa sejarah harus diingat bukan untuk menumbuhkan kebencian, tetapi sebagai pembelajaran agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan .
GMBI berharap agar Kedutaan Besar Jepang dapat memberikan tekanan kepada Pemerintah Kota Bekasi untuk segera bertindak dan mengganti plakat yang hilang. Selain itu, mereka juga berharap ada perhatian, dukungan untuk membantu dalam upaya pelestarian perawatan Tugu Monumen Kali Bekasi.
Fajar Ariesta mewakili masyarakat Kota Bekasi berharap agar Pemkot Bekasi lebih memperhatikan dan menjaga situs-situs bersejarah yang ada di wilayahnya. Kepedulian terhadap sejarah lokal penting untuk menumbuhkan rasa memiliki dan menghargai identitas kota.
Jurnalis : Jay
Editor : Asp. SP.

