Proyek strategis penghubung Sumedang–Indramayu dipertanyakan mutunya, warga desak audit terbuka
Aspirasi Jabar || Sumedang - Kualitas pembangunan infrastruktur di Kabupaten Sumedang kembali menjadi sorotan. Kali ini, proyek tembok drainase di ruas Jalan Burujul–Sanca menuai kritik tajam setelah sebuah video memperlihatkan lapisan tembok terkelupas hanya dengan tekanan ibu jari.
Video tersebut diunggah seorang warga ke akun Facebook pribadinya dan segera menyebar luas. Dalam rekaman berdurasi singkat itu, tampak bagian dinding drainase yang baru dibangun rapuh dan mudah terkelupas tanpa alat bantu apa pun. Fakta visual itu memantik pertanyaan serius: bagaimana standar mutu pekerjaan proyek bernilai puluhan miliar rupiah tersebut?
Dalam keterangannya, warga itu juga menandai langsung Gubernur Jawa Barat sebagai bentuk protes dan harapan agar pemerintah provinsi turun tangan melakukan evaluasi.
“Ini proyek besar, anggarannya Rp. 36 miliar. Tapi kualitasnya seperti ini,” ungkapnya.
Ruas Jalan Burujul - Sanca merupakan jalur strategis yang menghubungkan Kabupaten Sumedang dengan Kabupaten Indramayu, khususnya menunjang mobilitas warga Kecamatan Buahdua dan wilayah sekitarnya. Selama bertahun-tahun, kondisi jalan ini dikeluhkan rusak, sempit, dan rawan kecelakaan.
Pada Tahun Anggaran 2026, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp36 miliar untuk peningkatan ruas tersebut. Pekerjaan meliputi perbaikan badan jalan, pembangunan sistem drainase, hingga penguatan struktur pendukung. Dengan nilai anggaran sebesar itu, proyek ini seharusnya memenuhi spesifikasi teknis yang ketat dan berada dalam pengawasan maksimal.
Namun, kondisi di lapangan justru menimbulkan tanda tanya besar. Jika bagian drainase yang baru selesai dikerjakan sudah menunjukkan kerapuhan, publik menilai ada indikasi lemahnya kualitas material atau metode pelaksanaan. Persoalan ini bukan sekadar soal estetika bangunan, melainkan menyangkut ketahanan konstruksi dan keselamatan pengguna jalan dalam jangka panjang.
Desakan Audit Terbuka
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana proyek maupun instansi teknis terkait. Ketiadaan penjelasan tersebut memicu spekulasi sekaligus memperkuat tuntutan masyarakat agar dilakukan audit teknis secara terbuka.
Warga mendesak uji laboratorium terhadap material yang digunakan, pemeriksaan ketebalan dan campuran konstruksi, serta penelusuran kesesuaian pekerjaan dengan spesifikasi kontrak. Transparansi dinilai penting agar tidak muncul dugaan pembiaran terhadap proyek yang didanai uang rakyat.
Di media sosial, berbagai komentar bermunculan. Banyak netizen menyayangkan kualitas pengerjaan yang dinilai tidak sebanding dengan besarnya anggaran. Mereka menegaskan bahwa proyek infrastruktur bukan sekadar seremonial pembangunan, melainkan investasi jangka panjang bagi keselamatan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Kasus Jalan Burujul - Sanca kini menjadi ujian nyata komitmen pemerintah daerah dalam menjaga integritas pembangunan. Publik menunggu langkah konkret: apakah akan ada evaluasi menyeluruh, atau persoalan ini akan berlalu tanpa pertanggungjawaban yang jelas.
Jurnalis : Aep Mulyana
Editor : Asp. SP.
