Aspirasi Jabar || Kota Tasikmalaya - Kepala SMPN 5 Kota Tasikmalaya, Dina Yusida, S.Pd., M.Pd., menanggapi berbagai keluhan yang disampaikan oleh sejumlah guru dan orang tua siswa terkait dinamika yang terjadi di lingkungan sekolah. Selasa. 10/3/2026.
Menurut Dina, setiap rapat yang digelar di lingkungan sekolah pada dasarnya merupakan forum untuk melakukan evaluasi kinerja sekaligus memberikan arahan terhadap program yang telah maupun akan dilaksanakan.
“Dalam setiap rapat, semua pendapat pasti kami tampung. Namun tentu ada skala prioritas yang harus disesuaikan dengan program sekolah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tidak semua masukan bisa langsung direalisasikan sekaligus karena keterbatasan waktu dan kemampuan manajerial. Oleh karena itu, pihak sekolah harus menentukan mana program atau usulan yang paling mendesak untuk dilaksanakan terlebih dahulu.
“Kalau semua ditampung sekaligus tentu akan kewalahan. Karena itu kami pilih mana yang lebih urgent,” katanya.
Dina juga menanggapi anggapan sebagian pihak yang menilai gaya komunikasinya terkesan tegang atau emosional. Ia menilai persepsi tersebut muncul karena karakter bicaranya yang tegas.
“Mungkin terlihat tegang karena nada bicara saya yang tinggi dan tegas, sehingga disangka emosional. Padahal memang seperti itu gaya komunikasi saya,” jelasnya.
Ia bahkan berseloroh bahwa jika dirinya berbicara terlalu lembut, justru kemungkinan sedang dalam kondisi kurang sehat.
“Kalau saya lemah lembut sekali, berarti saya sedang sakit,” katanya. sambil tersenyum.
Menurut Dina, sebagai seorang pemimpin ia merasa memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan hal yang benar maupun yang perlu diperbaiki secara terbuka.
Ia juga menegaskan kedisiplinan merupakan hal yang selalu ia jaga sejak lama, bahkan sejak masih berstatus sebagai guru.
“Sejak dulu saat masih menjadi guru, saya sudah terbiasa datang ke sekolah sekitar pukul 06.30,” ujarnya.
Terkait tudingan adanya teguran keras kepada tenaga kependidikan, Dina menegaskan dirinya tidak pernah memarahi guru maupun staf di depan umum.
“Saya belum pernah memarahi guru atau tenaga kependidikan di depan guru lain atau siswa. Kalau ada hal yang perlu disampaikan, biasanya saya panggil ke ruang kepala sekolah karena saya tahu guru juga punya harga diri,” ungkapnya.
Dalam menjalankan pengawasan, ia mengaku rutin berkeliling ke kelas untuk memastikan proses pembelajaran berjalan dengan baik. Jika ditemukan kelas yang masih kosong, informasi tersebut biasanya disampaikan melalui grup WhatsApp internal sekolah sebagai pengingat.
Selain itu, Dina juga memastikan sejumlah program sekolah tetap berjalan meskipun ada penyesuaian pada sisi manajemen administrasi.
Program KUCI, misalnya, menurutnya tetap dilaksanakan, hanya saja pengelolaan administrasinya diperbaiki agar lebih tertata.
“Program KUCI tetap berjalan, hanya manajemen administrasinya yang dirapikan, bukan diubah,” tegasnya.
Begitu pula dengan kegiatan keagamaan di sekolah. Ia menyebutkan pelaksanaan salat dhuha tetap berlangsung, hanya terjadi penyesuaian lokasi pelaksanaan.
“Awalnya salat dhuha dan mengaji dilakukan di masjid. Sekarang salat dhuha tetap dilaksanakan, tetapi kegiatan mengaji dilakukan di kelas,” jelasnya.
Menanggapi isu perubahan pada program lingkungan sekolah, Dina juga memastikan program Adiwiyata tetap menjadi bagian dari kebijakan sekolah.
Ia menegaskan tidak ada penebangan pohon secara sembarangan, melainkan hanya penataan ulang agar lingkungan sekolah lebih sehat dan nyaman.
“Bukan merobohkan pohon, tetapi dirapikan. Kalau pohon terlalu tinggi, selain banyak ulat dan semut, juga bisa menghalangi cahaya matahari masuk ke kelas,” pungkasnya.
Jurnalis : MM
Editor : Asp. SP.
