Aspirasi Jabar || Bandung — Rapat Koordinasi Rembuk Stanting dan Musyawarah Pentahelix "Tohaga" Cicalengka Tahun 2026 digelar di Aula Kecamatan Cicalengka, Senin (31/8/2026). Kegiatan ini dihadiri 53 undangan dari berbagai sektor, meliputi unsur Forkopimcam, pemerintah desa, perwakilan perusahaan, serta Dinas Kesehatan dan Puskesmas Cicalengka.
Forum ini berfungsi untuk menyusun program kerja desa, mengonsolidasikan data kesehatan, serta mengalokasikan anggaran intervensi penurunan stunting secara terarah dan terpadu.
Danramil Cicalengka, Kapten Inf Ade Sumarna Chaerul, menyampaikan bahwa rapat ini merupakan forum kolaboratif yang mengintegrasikan musyawarah pencegahan stunting tingkat desa dengan strategi sinergi multipihak (pentahelix).
"Istilah 'Tohaga' — bahasa Sunda yang berarti kuat atau kokoh — mencerminkan target pembentukan ketahanan pangan, kesehatan keluarga, dan kemandirian desa yang solid dalam menekan angka gagal tumbuh pada anak," ujar Kapten Ade Sumarna Chaerul.
Agenda utama yang dibahas dalam sidang kolaboratif ini meliputi:
1. Analisis Data Sasaran — Meninjau laporan cakupan konvergensi dan peta sebaran balita stunting, wasting, ibu hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK), serta bayi di bawah dua tahun (baduta) dari data Kader Pembangunan Manusia (KPM).
2. Komitmen Anggaran Desa — Memastikan program pencegahan stunting diprioritaskan dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) dan dibiayai melalui Dana Desa maupun APBDes.
3. Penyusunan Rencana Aksi Pemulihan — Menyepakati intervensi spesifik dan sensitif, antara lain pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis lokal, edukasi gizi, penyediaan air bersih, hingga sanitasi layak.
Pendekatan Pentahelix menegaskan bahwa penanganan stunting tidak hanya bertumpu pada pemerintah, melainkan membagi peran secara merata dan terukur ke lima elemen strategis agar penanganan lebih menyeluruh dan berkelanjutan.
