Aspirasi Jabar || Sumedang – Kehadiran Jalan Lingkar Utara Kabupaten Sumedang yang digadang-gadang menjadi urat nadi baru konektivitas dan penggerak ekonomi kawasan Bendungan Jatigede, kini dibayangi ancaman serius. Memasuki musim hujan, sejumlah titik tebing di sepanjang ruas jalan tersebut dinilai rawan longsor dan berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Jalan Lingkar Utara merupakan bagian dari jaringan jalan lingkar yang mengelilingi Bendungan Jatigede, bersama Lingkar Timur, Selatan, dan Barat. Infrastruktur strategis ini dibangun untuk memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus membuka akses menuju kawasan wisata dan sentra perekonomian masyarakat di sekitar bendungan.
Secara teknis, Jalan Lingkar Utara membentang sepanjang kurang lebih 4,24 kilometer dengan lebar sekitar 6 meter. Ruas ini menghubungkan Blok Karamat di Desa Cigintung hingga Pasiringkik, Kecamatan Cisitu, dan tersambung langsung ke Jalan Nasional Sumedang–Wado. Proyek pembangunan dimulai sejak awal 2024 dan rampung pada rentang Mei hingga Juli 2025, sebelum akhirnya resmi dibuka dan dinyatakan fungsional pada September 2025.
Sejak dibuka, jalan ini memberikan dampak signifikan terhadap mobilitas warga. Akses antar wilayah Cisitu, Jatigede, hingga pusat Kabupaten Sumedang menjadi lebih lancar. Selain memangkas waktu tempuh, Jalan Lingkar Utara juga menjadi jalur alternatif yang efisien menuju kawasan Bendungan Jatigede.
Dari sisi ekonomi dan pariwisata, keberadaan jalan ini turut mendorong geliat UMKM lokal. Akses menuju destinasi wisata Bendungan Jatigede semakin terbuka, menarik minat wisatawan dan pelaku usaha. Bahkan, sebagian warga menjadikan ruas jalan tersebut sebagai tempat nongkrong dan rekreasi ringan karena panorama alamnya yang indah.
Namun di balik manfaat besar tersebut, ancaman longsor menjadi perhatian serius, terutama saat curah hujan tinggi. Kontur perbukitan dan tebing di beberapa titik dinilai rentan mengalami pergerakan tanah. Pemerintah daerah pun telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar tidak melintas di Jalan Lingkar Utara saat hujan deras, demi menghindari risiko kecelakaan akibat longsor.
Proyek Jalan Lingkar Utara sendiri mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten dengan skema pembiayaan negara. Ke depan, masyarakat berharap tidak hanya peningkatan konektivitas yang menjadi fokus, tetapi juga penguatan aspek keselamatan melalui penanganan tebing rawan longsor dan sistem mitigasi bencana yang memadai.
Dengan demikian, Jalan Lingkar Utara Sumedang diharapkan tetap menjadi simbol kemajuan infrastruktur daerah—bukan hanya membuka harapan baru bagi ekonomi dan pariwisata, tetapi juga aman dan berkelanjutan bagi seluruh penggunanya.
Jurnalis : Aep Mulyana