-->

Notification

×

Iklan

“Proyek Rp36 Miliar Tersendat, Camat Buahdua Turun Tangan: Jalan Burujul–Sanca di Persimpangan Nasib”

29 Apr 2026 | April 29, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-29T11:14:47Z

Aspirasi jabar ||™Sumedang — Mandeknya proyek strategis jalan Burujul–Sanca akhirnya memicu respons cepat dari Pemerintah Kecamatan Buahdua. Camat Buahdua, H. Kiki Hakiki, sigap menggelar rapat koordinasi di Aula Kecamatan, Rabu (29/4/2026), sebagai upaya mencari titik terang atas proyek bernilai fantastis yang kini terhenti dan menjadi sorotan publik.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Dalam surat resmi yang beredar, disebutkan bahwa penghentian pembangunan jalan tersebut telah memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Jalan yang sebelumnya digadang-gadang menjadi urat nadi konektivitas wilayah Buahdua menuju perbatasan Indramayu itu kini justru terjebak dalam ketidakpastian.

Rapat tersebut menghadirkan berbagai pihak penting, mulai dari unsur kepolisian, TNI, kepala desa, hingga pihak kontraktor dan pengawas proyek. Ini menunjukkan bahwa persoalan yang terjadi bukan lagi sekadar teknis, melainkan sudah menyentuh aspek koordinasi lintas sektor.

Dari Progres Menjanjikan, Kini “Mati Suri”

Ironisnya, proyek jalan Burujul–Sanca sempat menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Bahkan, Bupati Sumedang sebelumnya memastikan proyek ini hampir memasuki tahap akhir berupa pengaspalan (hotmix), dengan progres yang dinilai signifikan dan kualitas pekerjaan yang dijaga ketat.

Namun harapan itu mendadak runtuh. Setelah libur Lebaran, aktivitas proyek terpantau lumpuh total. Proyek senilai Rp36 miliar yang didanai melalui skema Inpres Jalan Daerah (IJD) itu kini praktis berhenti tanpa kepastian. 

Pihak kontraktor mengklaim, stagnasi terjadi bukan karena kendala teknis, melainkan tersendatnya pencairan anggaran dari pemerintah pusat. Mekanisme pembayaran yang macet membuat arus kas terganggu dan pekerjaan tak bisa dilanjutkan. 

Fakta Lebih Pahit: Anggaran Belum Ada

Masalah semakin kompleks setelah terungkap bahwa anggaran proyek tahun 2026 bahkan belum tercantum dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Tanpa kepastian anggaran, kontraktor tidak bisa melakukan penagihan atas progres yang sudah berjalan.

Kondisi ini menciptakan efek domino: subkontraktor terancam tidak dibayar, pekerjaan tertunda, dan kepercayaan publik pun tergerus.

Dugaan Masalah Internal dan Transparansi Dipertanyakan

Di tengah kebuntuan ini, muncul pula dugaan persoalan internal perusahaan pelaksana yang turut memperkeruh situasi. Bahkan sebelumnya, proyek ini juga sempat disorot karena dugaan selisih anggaran hingga miliaran rupiah, meski belum ada klarifikasi resmi dari pihak terkait.

Situasi ini mempertegas bahwa persoalan proyek Burujul–Sanca bukan sekadar soal jalan rusak atau pembangunan tertunda, melainkan potret rumitnya tata kelola proyek infrastruktur di daerah.

Camat Turun Tangan: Sinyal Darurat dari Daerah

Langkah Camat Buahdua menggelar rapat koordinasi menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah di tingkat kecamatan tidak tinggal diam. Ini sekaligus bentuk tekanan moral agar seluruh pihak, baik pemerintah pusat, kontraktor, maupun instansi teknis, segera memberikan kepastian.

Bagi masyarakat, jalan Burujul–Sanca bukan sekadar proyek—melainkan harapan. Jalan ini diharapkan membuka akses ekonomi, mempercepat mobilitas, hingga meningkatkan kesejahteraan warga di wilayah selatan Sumedang.

Di Ujung Jalan: Harapan atau Kegagalan?

Kini, proyek tersebut berada di titik kritis. Jika persoalan anggaran dan koordinasi tidak segera diselesaikan, bukan tidak mungkin proyek ini akan menjadi “monumen mangkrak” yang mencoreng wajah pembangunan daerah.

Sebaliknya, jika rapat koordinasi yang digagas Camat Buahdua mampu menghasilkan solusi konkret, maka jalan Burujul–Sanca masih punya waktu untuk bangkit dan kembali menjadi simbol harapan bagi masyarakat.

Satu hal yang pasti: publik kini menunggu, bukan sekadar janji melainkan aksi nyata.


Jurnalis : Aep Mulyana

×
Berita Terbaru Update