Aspirasi Jabar Morotai — Komoditas kelapa di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, berpeluang dikembangkan menjadi bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi komoditas perkebunan lokal sekaligus membuka peluang pengembangan industri energi terbarukan di kawasan timur Indonesia.
Pembahasan awal rencana pengembangan tersebut dilakukan melalui rapat pendahuluan untuk merampungkan informasi dan data terkait potensi kelapa Morotai. Pertemuan berlangsung di Aula Polres Pulau Morotai dan dipimpin Kapolres Pulau Morotai, serta dihadiri Bupati Pulau Morotai Rusli Sibua bersama sejumlah pimpinan dan perwakilan instansi terkait.
Rapat tersebut merupakan bagian dari upaya Kepolisian, melalui Mabes Polri dan Polda Maluku Utara, untuk mendukung masuknya investasi di sektor energi terbarukan, khususnya rencana hilirisasi kelapa Bido dan kelapa dalam sebagai bahan baku energi terbarukan.
Bupati Pulau Morotai Rusli Sibua menyatakan dukungan pemerintah daerah terhadap rencana investasi tersebut. Menurutnya, kelapa Bido merupakan salah satu varietas unggulan Morotai yang telah mendapatkan sertifikasi resmi dari Kementerian Hukum.
“Pemerintah daerah pada prinsipnya sangat mendukung investor yang ingin berinvestasi di Morotai, termasuk rencana investasi yang akan mengembangkan kelapa Bido menjadi produk bernilai tambah,” kata Rusli.
Ia mengatakan, hilirisasi kelapa menjadi langkah penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. Sebab, kelapa merupakan salah satu komoditas yang dibudidayakan masyarakat di berbagai wilayah Morotai.
Melalui hilirisasi, kelapa tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka lapangan kerja, memperkuat perekonomian daerah, serta meningkatkan daya saing komoditas kelapa Morotai.
Dalam pertemuan tersebut, Kapolres Pulau Morotai AKBP drh. Dedi Wijayanto, S.H. meminta pemerintah daerah menyampaikan data dan informasi terkait potensi kelapa Bido, mulai dari sebaran tanaman, produksi, hingga bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap rencana pengembangan investasi.
Kapolres menjelaskan, investor yang direncanakan masuk ke Morotai akan terlebih dahulu melakukan penelitian mengenai potensi dan proses hilirisasi kelapa Bido dan kelapa dalam untuk dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan, khususnya bahan bakar penerbangan.
Pengembangan tersebut tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui sejumlah tahapan penelitian dan pengembangan sebelum memasuki tahap pemanfaatan dan pengembangan dalam skala lebih luas.
Secara teknis, bahan baku kelapa terlebih dahulu diolah menjadi minyak kelapa mentah (coconut oil). Minyak tersebut kemudian melalui proses pemurnian awal, antara lain degumming, bleaching, dan filtration, untuk menghasilkan minyak kelapa murni (refined coconut oil).
Selanjutnya, minyak diproses melalui tahap hydrotreating menggunakan hidrogen dan katalis untuk mengubahnya menjadi hidrokarbon. Bahan tersebut kemudian melalui proses hydrocracking dan isomerisasi guna menyesuaikan struktur molekulnya.
Setelah itu, dilakukan proses fraksinasi untuk menghasilkan fraksi hidrokarbon yang dapat digunakan sebagai bahan bakar penerbangan. Produk tersebut selanjutnya melalui proses blending sesuai standar yang dipersyaratkan sebelum dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF).
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pulau Morotai Tahmid Bilo menjelaskan, potensi kelapa Bido tersebar di seluruh desa pada enam kecamatan di Kabupaten Pulau Morotai.
Untuk pengembangan saat ini, terdapat sekitar 800 pohon kelapa Bido di Desa Ngele-Ngele Besar yang telah berbuah. Sementara di kawasan Morodadi SP 3 terdapat sekitar 1.500 pohon, dengan lebih dari 200 pohon telah berbuah.
Adapun di Morodadi SP 1 terdapat lebih dari 200 pohon kelapa Bido yang masih dalam tahap pertumbuhan dan belum berbuah.
Menurut Tahmid, pengembangan kelapa Bido di kawasan Morodadi SP 3 dan SP 1 merupakan bagian dari proyek uji coba untuk mengetahui kemampuan varietas kelapa tersebut tumbuh dan berproduksi di wilayah dataran tinggi.
“Hasil uji coba menunjukkan bahwa kelapa Bido dapat tumbuh dan berproduksi di dataran tinggi. Ini menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan lebih lanjut,” jelasnya.
Hilirisasi kelapa Bido diharapkan tidak hanya menghasilkan produk energi terbarukan, tetapi juga menciptakan rantai nilai ekonomi baru bagi masyarakat.
Dengan potensi kelapa yang tersebar di berbagai wilayah, Kabupaten Pulau Morotai dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan komoditas tersebut dari sektor hulu hingga industri hilir, termasuk membuka peluang pemanfaatannya sebagai bahan baku energi masa depan melalui pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF)
Editor Oje