Melatih Keterampilan Mengajar Dengan Peer Teaching -->

Melatih Keterampilan Mengajar Dengan Peer Teaching

Dec 15, 2020, December 15, 2020
Pasang iklan




Oleh : Nurfitriani Fitrotu Zakiah
Mahasiswa STAI Dr Khez Muttaqien Purwakarta

Pendidikan merupakan sebuah usaha mendidik dan mendewasakan manusia. Dalam pendidikan, guru atau pendidik merupakan sosok yang terlibat langsung pada proses pembelajaran. Guru merupakan garda terdepan yang berperan menjalankan pendidikan. Dalam pendidikan, guru bertugas untuk mendidik dan mengajar. Sebagai sebuah proses, pengajaran tentu memiliki tujuan yang harus dicapai. Tujuan yang menjadi target pencapaian guru, serta tujuan yang menjadi target pencapaian peserta didik.

Menjadi seorang pendidik atau guru dituntut untuk memenuhi segala kompetensi sebagai guru profesional. Termasuk bagi calon guru harus mampu menguasai materi dan praktek menjadi guru yang baik dan benar. Karena itu calon guru memerlukan banyak pelatihan untuk bisa menjadi guru yang sesungguhnya.

Sudah menjadi hal lazim bagi mahasiswa fakultas pendidikan atau tarbiyah banyak mencari pengalaman mengajar dengan berkuliah sambil belajar mengajar di lembaga pendidikan formal maupun non formal. Hal tersebut tentunya dilakukan agar mahasiswa calon guru tersebut terbiasa dengan aktivitas guru mengajar di ruang kelas. Akan tetapi dalam proses mencari pengalaman mengajar tersebut seringkali mahasiswa calon guru dibingungkan mengenai cara mengajar yang benar. Sebagian memilih untuk mengajar seadanya mengikuti cara mengajar guru terdahulu dan terkesan mengikuti saja tanpa tahu benar tidaknya.

Hal tersebut merupakan hal yang wajar. Sebab mahasiswa sebagai calon guru yang masih dalam proses belajar menjadi guru belum mendapatkan pendidikan yang tuntas. Melalui mata kuliah micro teaching mahasiswa calon guru dapat mengasah keterampilan dasar mengajar tersebut melalui peer teaching.
Dalam praktik baik (Best Practice) ini, penulis akan menceritakan mengenai pengalaman praktikum keterampilan dasar mengajar dengan peer teaching yang telah dilakukan dalam perkuliahan micro teaching. 

Pengajaran mikro ini sangatlah penting bagi seorang calon pendidik atau calon guru. Karena melalui pengajaran mikro akan dapat mengasah keterampilan mengajar calon guru untuk mempersiapkan diri menghadapi pengajaran di ruang kelas yang sesungguhnya nanti.
(Marno dan M Idris, 2014: 67) 

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajaran mikro memberikan sumbangan positif dalam melatih keterampilan mengajar di kelas. Dalam praktikum peer teaching keterampilan dasar mengajar yang telah dilakukan penulis pada perkuliahan micro teaching, penulis menemukan manfaat dari pengajaran mikro tersebut. Dari pengalaman tersebut didapatkan bahwa dalam proses mengajar, guru harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan rapih serta disiplin dalam menggunakan waktu. Namun sebelum melakukan praktikum keterampilan dasar mengajar, diperlukan menguasai teori mengenai keterampilan dasar mengajar terlebih dahulu.

(Wiyani, 2013: 29) Keberhasilan proses pembelajaran dalam suatu sekolah sangat dipengaruhi oleh kompetensi guru sebagai pendidik profesional. Maka pendidik profesional haruslah memahami dan menguasai keterampilan dasar mengajar untuk keberhasilan pembelajaran tersebut.
Keterampilan dasar mengajar merupakan suatu kecakapan yang harus dimiliki setiap pendidik sebagai dasar untuk melaksanakan tugasnya mengajar secara profesional hingga menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Helmiati (2013: 28) mengatakan bahwa sebagai guru/pendidik, penguasaan keterampilan dasar mengajar menjadi salah satu persyaratan utama dalam proses pembelajaran di samping persyaratan yang lain.

Untuk melatih keterampilan mengajar tersebut maka diperlukan latihan. Pelatihan tersebut dapat dilakukan dengan peer teaching. Melalui praktik peer teaching, maka calon guru bisa melatih keterampilan dasar mengajarnya sekaligus dapat mengamati keterampilan mengajar sebagai observer. Dengan melakukan dan mengamati, maka pengetahuan yang didapatkan mencakup dua sisi pandang. Hal tersebut tentunya akan semakin menambah wawasan calon guru dalam mengajar.

Langkah awal sebelum memulai praktik keterampilan dasar mengajar, praktikan terlebih dahulu harus mempersiapkan perangkat pembelajaran, seperti RPP. RPP yang dibuat merupakan RPP satu lembar yang dirancang untuk pengajaran mikro. Sebab praktik dilakukan dengan kelas mikro dengan pelatihan peer teaching. Materi yang disipakan hanya mencakup satu atau dua kompetensi dasar saja.
Praktikum keterampilan mengajar yang dilakukan terdiri dari 10 keterampilan. Dalam praktik baik ini, penulis akan mendeskripsikan keterampilan dasar mengajar tersebut secara runtut sesuai dengan pengalaman dan referensi basic teorinya.

Pertama, keterampilan membuka pelajaran merupakan keterampilan yang harus dikuasai guru dalam membuka pembelajaran yang bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik untuk belajar. Dalam keterampilan membuka pelajaran, pendidik atau guru dituntuk untuk menimbulkan motivasi, memberikan acuan dan membuat kaitan atau apersepsi. Kegiatan membuka pelajaran ini di awal pelajaran dimulai dengan mengucapkan salam, menanyakan kabar siswa, mengecek kondisi kesiapan siswa untuk belajar, memberikan acuan berupa menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran, memberi apersepsi mengaitkan materi pelajaran yang akan dipelajari dengan materi yang sudah dipelajari sebelumnya atau dengan pengetahuan awal siswa.

Dalam kegiatan membuka ini, guru juga harus mampu menimbulkan motivasi siswa. (Asrori, 2019: 183) menyatakan bahwa, Motivasi dapat diartikan sebagai: (1) dorongan yang timbul pada diri seseorang atau kelompok untuk melakukan suatu tindakan denga tujuan tertentu; (2) Usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang ingin dicapai. Dalam upaya menimbulkan motivasi, guru dapat berupaya menarik siswa agar minat belajar. Upaya ini dapat menggunakan alat bantu seperti gambar, media pembelajaran, tantangan, variasi ekspresi dan intonasi yang relevan dengan topik pelajaran. Guru memiliki kewajiban untuk memunculkan motivasi belajar siswa, jika siswa tidak memiliki motivasi belajarnya sendiri.
Permasalahan yang terjadi dalam kegiatan membuka ini terkadang menghabiskan terlalu banyak waktu. Oleh karena itu guru harus membuat perencanaan pembelajaran yang sisitematis. Menurut Marno dan M idris dalam buku “Strategi, Metode, Dan Teknik Mengajar” untuk melakukan kegiatan membuka harus memegang prinsip singkat, padat dan jelas.

Kedua, keterampilan menjelaskan pelajaran. Keterampilan ini merupakan keterampilan guru dalam menjelaskan pelajaran. (Sukirman, 2012) Setiap kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari aspek menjelaskan, yaitu untuk membuat sesuatu menjadi jelas, dapat dimengerti dan dipahami.
Guru harus mampu menyampaikan informasi dengan baik kepada siswa. Maka dari itu guru harus memperhatikan intonasi, gaya bicara, ekspresi, dan artikulasi. Namun selain itu guru juga harus menguasai dengan baik materi yang akan diajarkan. Karena apabila guru tidak menguasai materi pelajaran, ia akan merasa gugup dan penjelasan sulit dipahami. (Sukirman, 2012) Setiap kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari aspek menjelaskan, yaitu untuk membuat sesuatu menjadi jelas, dapat dimengerti dan dipahami. Maka dari keterampilan menjelaskan ini erat kaitannya dengan komunikasi. Guru yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik akan lebih mudah dalam menjelaskan pelajaran. Untuk melatih keterampilan menjelaskan guru harus berlatih berbicara dengan bermacam intonasi serta mengekspresikan kata melalui mimik. 

Dalam proses menjelaskan, guru harus mampu melayangkan pandangannya keseluruh siswa.
Ketiga, keterampilan bertanya. Keterampilan bertanya merupakan keterampilan yang akan mendapatkan umpan balik dari siswa. Dalam keterampilan bertanya, guru harus mampu menyampaiakn pertanyaan yang relevan, berjenjang dan menyeluruh. Untuk mempraktikannya guru harus mulai mengajukan pertanyaan yang mudah di sela-sela penjelasan. Hal itu agar pembelajaran lebih interaktif.

Keempat, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, untuk praktik keterampilan ini, guru harus mempersiapkan dan merancang terlebih dahulu pelajaran yang akan dipelajari secara berkelompok. Dalam keterampilan ini guru dapat menggunakan media bahan ajar yang relevan.

Praktik keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil dimulai dari menjelaskan langkah diskusi seperti pembagian kelompok, pembagian masalah yang harus diselesaikan kelompok dan menyampaikan topik diskusi. Memusatkan perhatian peserta didik pada tema dan tujuan diskusi dengan cara menekankan pengucapan atau menggaris bawahi tema yang ditulis. Kemudian dalam proses diskusinya, guru harus mampu memperluas pendapat dari siswa dan menganalisa setiap pendapat siswa. Apabila ada pendapat yang kurang tepat, maka guru harus meluruskannya. Selain itu uru harus mampu menimbulkan motivasi siswa untuk aktif berdiskusi dengan memberi penguatan, dan di akhir guru menutup diskusi dengan membuat kesimpulan. (Sukirman, 2012: 323) Dengan diskusi siswa dan guru sama-sama aktif, bahkan melalui diskusi dapat memfasilitasi terjadinya proses pembelajaran siswa aktif.

Kelima, keterampilan menggunakan variasi. Variasi yang dimaksud adalah variasi dalam segala aspek. Seperti variasi media, metode, intonasi, ekspresi dan sebagainya. Variasi ini dibuat agar siswa tidak jenuh dan pembelajaran tidak monoton. Dalam menerapkan variasi pembelajaran tidak hanya diperlukan keaneka-ragaman jenis-jenis stimulus pembelajaran yang dikembangkan, melainkan ditentukan pula oleh faktor kualitasnya (Helmiati, 2013: 72). Artinya variasi yang digunakan haruslah memiliki tujuan, fleksibel, berkesinambungan, wajar dan dikelola dengan matang. 

Keterampilam variasi ini dalam praktiknya dapat digunakan dengan keterampilan mengajar yang lainnya.
Keenam, keterampilan menggunakan media pembelajaran. Tentu sebagai guru harus bisa menggunakan media dalam pembelajaran. Media tersebut bisa meliputi media audio, visual atau audio visual. Penggunaan media ini diharapkan mampu meningkatkan keefektifan belajar. Dalam Jurnal Pemikiran Islam (Mahnun, 2012: 27) Pada proses pembelajaran, media pengajaran merupakan wadah dan penyalur pesan dari sumber pesan, dalam hal ini guru, kepada penerima pesan, dalam hal ini siswa.

Dalam keterampilan ini, guru harus menggunakan media yang melibatkan siswa serta mampu membuat rasa ingin tahunya meningkat. Maka pemilihan media harus memperhatikan kondisi siswa dan relevan dengan materi.
Ketujuh, keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru dalam mengelola situasi dan kondisi ruang kelas. Guru harus mempu menghadapi kondisi kelas yang tidak berjalan baik. Sekaligus mampu menaganinya. Dalam hal ini guru dapat memberikan peraturan kelas terlebih dahulu, atau bersama-sama membuat tata tertib dengan siswa. Namun apabila situasi yang kurang baik terjadi setelah peraturan dibuat, maka guru bisa memberikan sanksi atau teguran yang edukatif.

(Helmiati, 2013: 78) Dalam bahasa lain keterampilan mengelola kelas dapat diartikan sebagai seni atau keterampilan guru dalam mengoptimalkan sumber daya kelas bagi penciptaan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Dalam mengelola kelas guru harus mampu membagi perhatiannya ke seluruh siswa dengan adil. Dalam praktik yang telah penulis lakukan untuk mengelola kelas maka harus membuat peraturan terlebih dahulu dan apabila masih ada pelanggaran, guru harus melakukan pendekatan dan memberikan nasihat atau teguran yang edukatif. Agar teguran tersebut tidak membuat siswa menjauh atau memberontak, namun membuat siswa menyadari kesalahannya.

Kedelapan, keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan. Merupakan keterampilan yang harus dikuasai guru dalam mengajar pada kelompok dan individu. Pendekatan yang dilakukan tentu berbeda.
Dalam bukunya (Helmiati, 2013: 82) menjelaskan bahwa ada empat komponen keterampilan yang harus dimiliki oleh guru untuk pengajaran kelompok kecil dan perorangan. Keempat keterampilan tersebut adalah mengadakan pendekatan secara pribadi, mengorganisasikan, membimbing dan memudahkan belajar, serta merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.

Dari praktik yang telah dilakukan, pendekatan secara pribadi dapat dilakukan dengan mengenal nama-nama siswa dan menyebut namanya ketika berinteraksi. Adapun keterampilan mengorganisir adalah kemampuan guru untuk membagi kelompok yang tepat, membagikan topik kelompok dan lainnya. Dalam praktiknya guru juga harus memberikan penguatan untuk mendukung dan mendorong siswa agar dapat menyelesaikan tugasnya. Dalam hal ini, pujian sangat diperlukan sebagai respon positif guru bagi siswa.

Kesembilan, keterampilan memberi penguatan. Keterampilan ini bertujuan untuk dapat memberikan pujian agar siswa melanjutkan perilaku baiknya. Penguatan yang diberikan bisa menggunakan penguatan yang bermacam. Seperti penguatan verbal, simbol, pendekatan dan sebagainya. Dalam keterampilan ini guru harus dapat membuat siswa mempertahankan dan meningkatkan perilaku baiknya dalam pembelajaran.
Keterampilan penguatan harus berpegang pada beberapa prinsip. Dalam bukunya (Marno dan M Idris, 2014: 131) menjelaskan bahwa prinsip-prinsip penguatan diantaranya kehangatan, antusiasme, bermakna, menghindari respon negatif. Pada praktiknya, penulis mencoba memberikan penguatan dengan mendekati siswa, memberikan tepuk tangan, memberi simbol jempol, dan memberikan pujian verbal.

Kesepuluh, keterampilan menutup pelajaran merupakan kegiatan guru mengakhiri pelajaran. Kegiatan ini bertujuan untuk dapat mengakhir pelajaran dengan baik. Kegiatan menutup ini biasanya berisi membuat resume bersama siswa, memberikan penugasan yang sesuai, sekaligus melakukan evaluasi dan pemantapan. Kegiatan menutup ini bermanfaat untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar siswa dan keberhasilan mengajar guru.
Pada praktiknya, keterampilan menutup pelajaran ini meliputi merangkum, mengevaluasi, melakukan pemantapan dan memberi motivasi siswa untuk terus belajar serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulannya dari sepuluh keterampilan dasar mengajar yang telah dipraktikkan melalui peer teaching mampu memberikan pengalaman mahasiswa calon guru untuk dapat menguasai keterampilan mengajar yang benar. Hal ini tentu akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa yang nantinya aan menghadapi proses mengajar yang sesungguhnya. Dari praktikum ini, mahasiswa dapat menerapkan apa yang sudah dilatih dan dipelajari pada kegiatan mengajar yang dilakukan berikutnya atau pada real teaching.

DAFTAR PUSTAKA
Asrori, Mohammad. 2019. Psikologi Pembelajaran. Bandung: PT Sandiarta
Sukses

Helmiati. 2013. Micro Teaching: Melatih Keterampilan Dasar Mengajar.
Yogyakarta: Aswaja Pressindo

Mahnun, Nunu. 2012. Media Pembelajaran: Kajian Terhadap Langkah-Langkah
Pemilihan Media Dan Implementasinya Dalam Pembelajaran. Dalam Jurnal
Pemikiran Islam; Vol. 37, No. 1

Marno dan M Idris. 2014. Strategi, Metode dan Teknik Mengajar: Menciptakan
Keterampilan Mengajar yang Efektif dan Edukatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media

Sukirman, Dadang. 20120. Micro Teaching. Jakarta: Direktorat Jenderal
Pendidikan Islam Kementerian Agama RI

Wiyani, Novan Ardy. 2013. Desain Pembelajaran Pendidikan: Tata Rancang
Pembelajaran Menuju Pencapaian Kompetensi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

TerPopuler