Aspirasi Jabar || Sumedang - Proyek pembangunan ruas Jalan Burujul -Sanca di Kecamatan Buahdua yang digadang-gadang menjadi urat nadi konektivitas Sumedang - Indramayu kini justru tersendat. Di tengah harapan besar masyarakat, proyek bernilai Rp. 36 miliar itu menghadapi kenyataan pahit: kekurangan anggaran yang belum juga cair.
Kondisi ini memaksa Camat Buahdua, H. Kiki Hakiki, menggelar rapat koordinasi di Aula Kecamatan Buahdua, Rabu (29/4/2026). Rapat tersebut tidak sekadar formalitas tetapi menjadi ruang “pengadilan terbuka” bagi proyek yang kini menjadi sorotan publik.
Melalui sambungan zoom, peserta rapat berdialog langsung dengan Michael sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) DKI Jakarta–Jawa Barat. Di sinilah fakta yang selama ini menjadi spekulasi publik akhirnya terungkap.
Dana Rp.36 M, Baru Cair Rp.5 M.
Dalam penjelasannya, pihak PPK mengakui bahwa dari total anggaran Rp36 miliar, baru sekitar Rp5 miliar yang terealisasi, itu pun berasal dari anggaran tahun 2025. Sementara untuk tahun 2026, dana sebesar kurang lebih Rp. 31 miliar hingga kini belum cair.
Fakta ini seolah menjawab mengapa proyek yang sebelumnya digadang-gadang berjalan cepat, kini seperti kehilangan denyut.
Padahal, proyek ini sejak awal merupakan program strategis yang bersumber dari Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD) dengan nilai Rp36 miliar untuk pembangunan sepanjang ±4 kilometer.
Dari Janji Manis ke “Mati Suri”.
Pada awal 2026, pemerintah optimistis proyek ini dimulai akhir Januari dan akan mempercepat konektivitas wilayah serta menggerakkan ekonomi masyarakat perbatasan.
Namun realita di lapangan berkata lain. Aktivitas proyek sempat dilaporkan “mati suri” bahkan vakum pasca-Lebaran, memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat.
Situasi ini memperlihatkan kontras tajam antara narasi optimisme pemerintah dan fakta implementasi di lapangan.
Jalan Strategis yang Terabaikan.
Ruas Burujul–Sanca bukan sekadar proyek biasa. Jalan ini adalah penghubung vital antara Kabupaten Sumedang dan Indramayu, jalur distribusi ekonomi, mobilitas warga, hingga akses pelayanan dasar.
Sejak lama, kondisi jalan ini dikeluhkan warga karena rusak parah dan menghambat aktivitas harian.
Bahkan, rencana pembangunan sebelumnya disebut akan menggunakan spesifikasi konstruksi kuat agar tahan lama dan tidak cepat rusak, sebuah janji kualitas yang kini ikut dipertanyakan.
Rapat Koordinasi: Harapan atau Sekadar Seremonial?
Dalam rapat tersebut, seluruh pihak yang hadir, mulai dari unsur Muspika, desa, hingga pelaksana proyek, menyuarakan harapan yang sama: proyek harus dilanjutkan.
Namun publik tidak lagi hanya butuh harapan.
Mereka menuntut kepastian.
Lebih dari itu, masyarakat juga menegaskan agar pelaksanaan proyek benar-benar sesuai spesifikasi, bukan sekadar mengejar penyelesaian administratif.
Kritik Tajam: Lemahnya Perencanaan atau Koordinasi?
Mandeknya proyek ini memunculkan pertanyaan serius:
- Mengapa proyek sebesar Rp36 miliar bisa berjalan tanpa kepastian pencairan anggaran penuh?
- Apakah ada kelemahan dalam perencanaan fiskal?
- Atau justru buruknya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah?
Jika persoalan klasik seperti pencairan anggaran masih menjadi penghambat, maka wajar jika publik mulai kehilangan kepercayaan.
Rakyat Menunggu, Pemerintah Diuji.
Kini, nasib jalan Burujul–Sanca berada di persimpangan: dilanjutkan dengan keseriusan atau kembali menjadi proyek mangkrak yang terlupakan.
Yang pasti, masyarakat sudah terlalu lama menunggu.
Dan setiap hari keterlambatan bukan sekadar soal proyek, tetapi soal ekonomi yang tertahan, akses yang terhambat, dan kepercayaan publik yang terus tergerus.
Jika pemerintah gagal menjawab ini dengan tindakan nyata, maka proyek Rp36 miliar ini akan dikenang bukan sebagai solusi, melainkan sebagai simbol kegagalan.
Jurnalis : Aep Mulyana.
Editor : Asp. SP.